Agraris.id, 2026 — Dunia pertanian di tangan generasi muda bukan lagi sekadar soal mencangkul di sawah, melainkan tentang jeli melihat peluang di depan mata. Yulia Putri, yang sering dipanggil dengan putri merupakan seorang alumnus S1 Pertanian Universitas Andalas (Unand) asal Pariaman, membuktikan bahwa kesuksesan tidak harus diraih dengan merantau jauh, melainkan dengan mengoptimalkan potensi tanah kelahirannya di Kecamatan IV Koto Aur Malintang.

Keinginan kuat untuk berbakti di kampung halaman menjadi pemantik awal langkahnya setelah menyandang gelar sarjana. Alih-alih mengejar karier di kota besar, Putri memilih mengabdi sebagai perangkat desa sambil memutar otak untuk menghidupkan lahan di sekitar rumahnya.

“Awalnya saya hanya ingin bekerja tanpa harus jauh dari kampung halaman. Akhirnya saya bekerja di perangkat desa, namun panggilan untuk bertani tetap ada,” ujar Putri mengenang awal keputusannya.

Inovasi seringkali datang dari pengamatan sederhana terhadap pasar yang belum tergarap di lingkungan sekitar. Melihat tingginya permintaan melati di Kota Pariaman namun masih jarangnya budidaya serupa di wilayah IV Koto Aur Malintang, Putri menangkap saran dari kakak ipar dan dukungan oleh suaminya untuk mulai menanam melati di sela-sela pohon kelapa yang mendominasi desanya.

IKLAN AGRARIS

“Saya mendapatkan motivasi untuk bertani melati dari ide kakak ipar serta dorongan dan dukungan dari sang suami. Di Kota Pariaman banyak yang berkebun melati, tapi di daerah saya belum ada, jadi saya manfaatkan lorong-lorong di antara pohon kelapa di halaman rumah untuk menanamnya,” tuturnya.

Kemandirian menjadi modal utama Putri saat memulai usahanya pada pertengahan tahun 2024 dengan teknik yang efisien dan hemat biaya. Tanpa membeli bibit pabrikan, ia memilih melakukan teknik stek mandiri dan merawat tanamannya secara telaten di atas tanah miliknya sendiri.

“Saya memulai di pertengahan 2024 dengan stek sendiri, tidak membeli bibit. Saya tanam di kebun sendiri yang merupakan taman halaman dekat rumah,” jelasnya mengenai langkah awal budidaya tersebut.

Nilai tambah sebuah produk pertanian terletak pada kreativitas dalam mengolah hasil panen menjadi barang siap pakai dengan nilai ekonomi tinggi. Melati yang ia petik tidak dijual mentah, melainkan dironce menjadi hiasan pengantin yang elegan, yang kini menjadi sumber pemasukan menjanjikan bagi Putri.

Dari hasil panen itu, saya jadikan ronce melati pengantin. Harganya berkisar antara Rp350 ribu hingga Rp400 ribu per setnya,” ungkap tani muda ini.

Ketekunan dalam mengelola usaha skala rumahan ini rupanya membuahkan hasil yang melampaui angka-angka di atas kertas, bahkan mampu mewujudkan mimpi mulia bagi keluarganya. Meski secara akumulasi pendapatan bersihnya berkisar di angka Rp3-5 Jt perbulan, manajemen keuangan yang baik dari hasil tabungan melati tersebut mampu mengantarkan sang bunda menuju tanah suci.

Dari hasil tersebut, kalau dihitung-hitung perbulan kisaran Rp3-5Jt. Alhamdulillah, dari tabungan melati itu sekarang saya bisa mendaftarkan ibu untuk berangkat umrah di bulan Juli ini,” ucapnya dengan nada syukur.

Keberhasilan Putri menjadi refleksi sekaligus cambuk bagi generasi Z, khususnya para sarjana pertanian, agar tidak terpaku pada standar kesuksesan yang kaku. Baginya, langkah pertama adalah kunci, dan potensi terbesar acap kali tersembunyi di lingkungan paling dekat dengan kita.

Setiap orang pasti punya potensi. Jangan lihat yang jauh-jauh dulu untuk mendapatkan penghasilan, lihat yang di dekat kita saja. Apa yang bisa dilakukan, lakukanlah. Jangan takut memulai, mulai saja, karena pada akhirnya jalannya akan terlihat setelah langkah pertama,” pesannya menutup pembicaraan.[Mbee]