Tanah Datar, 2026 Di tengah gempuran modernitas yang acap kali menjauhkan anak muda dari sektor agraris, Abdul Latif muncul dengan pilihan yang tidak biasa. Pemuda asal Tanah Datar yang akrab disapa Latif ini merupakan representasi Gen Z yang menolak untuk menutup mata terhadap potensi besar di kampung halamannya. Meski saat ini ia sedang menempuh studi di jurusan Perbandingan Mazhab, sebuah bidang keilmuan yang sarat dengan teks hukum dan pemikiran agama, Latif justru melihat tanah sebagai medium pengabdian yang nyata. Ia memiliki visi besar untuk mendobrak stigma yang membayangi dunia tani.

“Saya ingin berusaha keluar dari lingkaran setan di pertanian yang selama ini dianggap buntu dan penuh ketidakpastian,” ujar Latif dengan penuh keyakinan.

Bagi Latif, terjun ke ladang bukan berarti mengabaikan gelar akademisnya. Ia justru mengintegrasikan disiplin ilmunya dengan cara berpikir yang strategis dalam mengelola lahan. Di matanya, sektor pertanian adalah sumber kebahagiaan yang mampu memberikan makna lebih dalam perjalanan hidupnya, bukan sekadar kerja fisik yang melelahkan. Hal inilah yang mendorongnya untuk mulai bertani sejak dini tanpa melepaskan fokus pada bidang keilmuannya.

“Saya melihat bahwa saat ini sektor pertanian tetap mampu membawa hidup yang lebih bahagia dalam masa perjalanan hidup saya,” ungkapnya mengenai filosofi hidup yang ia jalani.

IKLAN AGRARIS

Keseharian Latif pun terbagi dengan rapi; ia bekerja di tempat lain namun tetap menjadikan kebunnya sebagai prioritas sampingan yang sangat berarti. Kebun tersebut ia posisikan sebagai pemasok kebutuhan harian sekaligus pelarian dari hiruk-pikuk kesibukan profesional. Lebih dari sekadar mencari hasil bumi, Latif menemukan aspek spiritual dan ketenangan batin saat bersentuhan langsung dengan alam.

“Bagi saya, di lahan sendiri adalah tempat meditasi yang lebih menenangkan, apalagi sambil melihat lahan yang penuh dengan bahan pangan yang tumbuh dengan tangan sendiri,” tutur Latif menggambarkan kedamaian yang ia temukan di balik cangkul dan tanaman.

Semangat Latif dalam bertani juga dibuktikan dengan kegigihannya yang luar biasa meski tidak memiliki lahan pribadi. Keterbatasan kepemilikan aset tanah tidak menjadi penghalang baginya untuk terus berproduksi; ia memilih untuk menyewa lahan demi menyalurkan hasrat bertaninya. Di atas lahan yang ia sewa, Latif menerapkan metode tumpang sari dengan menanam cabai, cabai rawit, dan bawang perai secara bersamaan dalam skala yang terukur. Walau saat ini ia baru mengelola sekitar tiga bedengan, langkah kecil ini menjadi bukti bahwa keterbatasan ruang bukan hambatan bagi sebuah aksi nyata.

“Tidak punya tanah bukan alasan bagi saya untuk tidak bertani, sakin semangatnya, saya rela menyewanya meskipun hanya memiliki sekitar tiga bedengan di lahan tersebut,” pungkasnya mengakhiri pembicaraan.[Mbee]