Agraris.id, 2026 — Kementerian Pertanian (Kementan) secara resmi memulai Gerakan Tanam Serentak di lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) seluas 10.000 hektare yang tersebar di 19 provinsi pada Kamis (9/4/2026). Langkah masif ini diambil sebagai strategi utama pemerintah dalam menjaga stabilitas produksi pangan nasional sekaligus mengantisipasi potensi dampak anomali iklim El Nino yang diprediksi akan menekan sektor pertanian tahun ini.

Program ini difokuskan pada optimalisasi lahan-lahan baru hasil cetak sawah agar segera produktif dan tidak terlantar. Dengan melibatkan ribuan petani, penyuluh, serta dukungan penuh dari TNI dan pemerintah daerah, Kementan menargetkan percepatan masa tanam guna mengejar ketersediaan air yang masih mencukupi sebelum memasuki puncak musim kemarau. Implementasi teknologi seperti penggunaan benih varietas unggul tahan kekeringan dan sistem pompanisasi menjadi tulang punggung dalam gerakan ini.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa kecepatan bertindak di lapangan adalah kunci utama agar Indonesia tidak kehilangan momentum produksi. Ia menekankan bahwa keterlambatan dalam menanam dapat berisiko fatal terhadap cadangan pangan nasional di masa depan.

“Kalau kita lambat tanam, kita berisiko kehilangan produksi. Karena itu harus serentak, masif, dan tidak boleh terlambat. Program Cetak Sawah Rakyat ini adalah ekspansi besar kita untuk menambah lahan produktif di tengah tekanan iklim global yang tidak menentu,” tegas Mentan Amran dalam keterangannya.

IKLAN AGRARIS

Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dr. Idha Widi Arsanti, yang memimpin jalannya tanam serempak secara simbolis, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memastikan setiap jengkal lahan yang telah dibuka segera memberikan hasil nyata bagi rakyat.

“Kegiatan ini dilakukan untuk mempercepat proses penanaman di lahan cetak sawah rakyat yang sudah siap. Kita ingin lahan yang sudah dibuka seluas 54.000 hektare secara nasional segera ditanami, minimal 50 persen dalam waktu dekat, untuk menghindari tumbuhnya semak belukar kembali di lahan yang sudah dibersihkan,” ujar Dr. Idha Widi.

Melalui sinergi lintas sektor ini, pemerintah optimis bahwa target swasembada pangan berkelanjutan tetap dapat tercapai meski dibayangi ancaman cuaca ekstrem. Keberhasilan Gerakan Tanam Serentak ini diharapkan dapat menjadi penyangga stok beras nasional dan memperkuat ketahanan pangan Indonesia menghadapi tantangan iklim di tahun 2026. [Mbee]

Referensi dan Bacaan Lanjutan:

https://www.kompas.id/artikel/hadapi-ancaman-el-nino-sdm-pertanian-diperkuat

https://www.pertanian.go.id/?show=news&act=view&id=7649

https://bbppbatangkaluku.bppsdmp.pertanian.go.id/berita/antisipasi-el-nino-2026-kementan-percepat-cetak-sawah-rakyat-di-konawe-utara