Asahan, 2026 — Di tengah hamparan hijau pohon kelapa sawit yang menjulang, sosok Azrul Rambe tampak lincah bergerak di antara pelepah. Pemuda ini bukanlah pekerja biasa; ia adalah anak kedua dari keluarga besar Ahmad Kasim Rambe yang kini menjadi tumpuan utama dalam mengelola lahan sawit milik keluarganya. Di saat banyak anak muda seusianya memilih untuk mengejar eksistensi di luar daerah, Azrul justru memilih menetap di kampung halaman untuk memantau, menjaga, dan merawat amanah hijau yang telah menghidupi keluarga mereka selama bertahun-tahun.

Pilihan hidup Azrul didasari oleh rasa tanggung jawab yang besar terhadap keluarga. Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, ia menyadari posisinya sebagai penyambung tangan orang tua di rumah. Kakak sulungnya kini tengah menempuh pendidikan di bangku perkuliahan, sementara adik bungsunya sedang menimba ilmu di pondok pesantren. Dengan keberadaan saudara-saudaranya yang sedang fokus menuntut ilmu di luar, Azrul merelakan dirinya untuk mendedikasikan waktu dan tenaganya di lahan sawit agar orang tuanya memiliki bantuan langsung di rumah dan aset keluarga tetap terjaga produktivitasnya.

Saban hari, ritme kerja Azrul diatur dengan sangat disiplin. Mulai dari membabat rumput yang mulai meninggi, memastikan pemupukan rutin setiap enam bulan sekali, hingga melakukan penunasan untuk menjaga kesehatan pohon. Ketelitiannya bahkan terlihat saat ia tak segan membungkuk di antara seresah daun untuk mencari brondolan sawit yang terjatuh. Baginya, setiap butir sawit adalah hasil keringat orang tua yang tidak boleh tersia-siakan. Pengalaman menemani sang ayah ke kebun sejak kecil telah membentuk instingnya; ia tahu kapan sebuah pohon butuh perhatian ekstra hanya dengan melihat kondisi daunnya.

Meski bekerja di sektor yang sering dianggap berat oleh generasi muda, Azrul membuktikan bahwa ketekunan ini memberikan kemandirian ekonomi. Dari jasa menunas pohon sawit kecil, ia mampu mengantongi upah sekitar 300rb setiap dua minggu. Namun, bagi ia uang tersebut bukanlah untuk foya-foya. Di tengah tren gaya hidup anak muda yang gemar jalan-jalan atau sekadar nongkrong, beliau lebih memilih menggunakan hasilnya untuk membantu kebutuhan rumah tangga dan memastikan kelancaran urusan di kebun.

IKLAN AGRARIS

Saya sadar tanggung jawab saya besar di sini. Kakak sedang kuliah dan adik di pesantren, jadi sayalah yang harus berdiri di depan untuk membantu orang tua dan menjaga kebun ini. Ini bukan sekadar kerja, tapi cara saya berbakti agar ada yang mengurus rumah dan membantu ayah,” ungkap Azrul Rambe dengan tatapan mantap.

Ketulusannya menjalankan peran ini membuat pekerjaan berat di bawah terik matahari terasa lebih ringan, karena dilakukan demi kebahagiaan keluarga besar.

Masalah upah 300rb dari menunas itu bagi saya sudah sangat cukup untuk pegangan. Saya tidak terpikir untuk ikut-ikutan jalan-jalan seperti anak muda lain, karena prioritas saya adalah memastikan kebun terawat dan orang tua tidak merasa sendirian mengurus semuanya. Selama hasil kebun bagus, saya sudah sangat tenang,” pungkasnya.[Mbee]