Oleh : Amelia Citra Aulia
Lulusan Pengelolaan Agribisnis Politeknik Pertanian Negri Payakumbuh

Dalam konferensi pers terbaru, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan komitmennya memperkuat program hilirisasi komoditas pertanian, terutama untuk produk perkebunan seperti kelapa, kakao, kopi, mete, dan lada/pala. Dengan langkah ini, hilirisasi diposisikan bukan sekadar kebijakan agraria, tetapi sebagai motor transformasi ekonomi  membuka peluang besar bagi para profesional agribisnis, terutama lulusan seperti saya.

Latar Belakang dan Data Terkini

  • Program hilirisasi baru-baru ini mendapat dorongan serius: pemerintah menyiapkan skema investasi hingga Rp 371,6 triliun untuk mendukung hilirisasi pertanian dan komoditas perkebunan.

  • Dari investasi ini, pemerintah memperkirakan bahwa hilirisasi akan menghasilkan nilai tambah yang signifikan bukan hanya pada produk mentah, tetapi produk olahan dengan nilai ekonomi jauh lebih tinggi

  • Proyeksi nilai ekonomi dari hilirisasi perkebunan pun besar: untuk periode 2025–2027, potensi komoditas strategis diperkirakan mencapai ± Rp 138 triliun.

  • Dampak sosial-ekonomi juga diantisipasi besar: pemerintah menyebut hilirisasi dapat membuka hingga 1,6 juta lapangan kerja baru.

Di sisi makro, perhitungan ekonomi menunjukkan bahwa program hilirisasi  sebagai bagian dari kebijakan “downstreaming” sumber daya — bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Mengapa Lulusan Pengelolaan Agribisnis Sangat Dibutuhkan Sekarang

Sebagai lulusan Pengelolaan Agribisnis, kami mendapatkan bekal pengetahuan dan keterampilan di bidang:

  • Analisis usaha tani dan rantai nilai agribisnis,

  • Pemasaran produk pertanian termasuk pemasaran hasil olahan,

  • Manajemen pascapanen dan proses produksi hilir (olah hasil primer ke produk jadi/turunan),

  • Pengembangan produk dan inovasi agronomi serta agribisnis,

  • Pemahaman model bisnis agraris yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Dengan basis tersebut, kami memiliki keunggulan dalam menjembatani antara kebijakan hilirisasi dan implementasi di lapangan, terutama:

  • Mendesain sistem agribisnis yang berkelanjutan dari produksi, pascapanen, olahan, hingga distribusi/pemasaran.

  • Membantu petani kecil beradaptasi dengan model agribisnis modern dan meningkatkan produktivitas serta nilai tambah hasil mereka.

  • Berpartisipasi dalam pengembangan industri pengolahan komoditas misalnya pabrik produk turunan kelapa, kakao, kopi  dan mengelola aspek bisnis & manajemen.

Peluang Nyata: Dari Pemerintah, Industri, Hingga Wirausaha

Hilirisasi bukan hanya membawa peluang bagi sektor formal (BUMN, perusahaan agroindustri), tetapi juga membuka ruang luas bagi wirausaha agribisnis, koperasi modern, maupun usaha mikro dan kecil berbasis komoditas lokal.

Misalnya:

  • Investasi besar dalam hilirisasi memberi ruang bagi pembangunan pabrik/pengolahan lokal, memerlukan manajemen, SDM terampil, dan keahlian agribisnis.

  • Permintaan untuk produk olahan (misalnya produk dari kelapa, kakao, kopi, mete) meningkat menciptakan peluang bagi pengembangan brand lokal, produk khas daerah, dan model agribisnis bernilai tambah.

  • Konsolidasi rantai pasok dan distribusi dari petani ke pasar menjadi penting. Di sinilah lulusan agribisnis bisa berperan sebagai jembatan antara petani, pelaku industri, dan konsumen.

Tantangan dan Apa yang Diperlukan Agar Peluang Berhasil

Tentu saja, transformasi melalui hilirisasi tidak otomatis berjalan mulus. Beberapa tantangan yang harus dihadapi dan dijawab dengan baik:

  • Infrastruktur pengolahan dan distribusi harus tersedia merata terutama di daerah pedesaan/daerah komoditas.

  • Petani kecil perlu pendampingan, akses modal, dan pelatihan agar mampu memenuhi standar produksi modern dan konsistensi kualitas.

  • Regulasi, standardisasi, dan dukungan kebijakan harus konsisten misalnya kebijakan semacam Permen Pertanian Nomor 40 Tahun 2023 yang mendukung peningkatan nilai tambah dan daya saing produk perkebunan.

  • Kolaborasi lintas aktor pemerintah, pelaku industri, sektor swasta, petani, dan profesional agribisnis harus dibangun agar rantai nilai benar-benar terintegrasi.

Kesimpulan & Seruan untuk Aksi

Pemerintah telah menetapkan arah dan komitmen: hilirisasi pertanian adalah jalan strategis untuk meningkatkan nilai produk, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi nasional. Angka-angka fantastis  ratusan triliun rupiah investasi, proyeksi nilai tambah tinggi, jutaan lapangan kerja menunjukkan bahwa ini bukan sekadar retorika.

Bagi kami, lulusan Agribisnis: ini saatnya bersiap. Dengan kompetensi yang kami miliki dari manajemen agribisnis, pemasaran hingga produksi  kami bisa menjadi garda terdepan dalam implementasi hilirisasi. Lebih dari itu, kami bisa menjadi katalisator transformasi: menjaga agar hasil pertanian lokal tidak hanya mentah, melainkan bernilai tambah tinggi dari desa ke pasar nasional, atau bahkan pasar global.

Oleh karena itu, saya menyerukan kepada rekan-rekan sesama lulusan agribisnis, mahasiswa, serta pemuda desa: mari kita manfaatkan momentum ini. Bentuk kolaborasi  antara pelaku agribisnis, petani, dan sektor industri jadikan agribisnis sebagai profesi masa depan. Dorong keberlanjutan, nilai tambah, dan kemandirian pertanian Indonesia melalui hilirisasi.

Karena pada akhirnya: hilirisasi bukan hanya soal produk  tetapi soal masa depan pertanian, petani, dan generasi muda agraris di Indonesia.