Padang, 2026 — Masihkah kita percaya bahwa masa depan hanya milik industri digital, sementara para penguasa teknologi dunia justru sedang sibuk menggali tanah?

Saat ini, para titan global telah beralih dari algoritma ke agrikultur dengan menjadikan lahan produktif sebagai aset strategis masa depan. Bill Gates telah berhasil menguasai lebih dari 242 ribu hingga 275 ribu acre lahan pertanian di negara bagian Amerika Serikat untuk mengembangkan riset benih unggul dan praktik berkelanjutan, sementara Mark Zuckerberg ia fokus mendanai riset biotek tanaman dan precision agriculture, tujuannya menciptakan pangan yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan tahan iklim ekstrem. Di sisi lain, Jack Ma founder Alibaba, mendirikan Digital Agriculture Base di Tiongkok dan memanfaatkan Alibaba Cloud untuk membantu petani menganalisis cuaca, tanah, dan pola tanam secara real-time, dan miliader lainnya seperti Elon Musk, Warren Buffet, Jeff Bezos yang juga tidak ketinggalan ikut serta berinvestasi dalam skala besar pada teknologi pangan dan rantai pasok agrikultur global.

Keterlibatan para raksasa ekonomi ini bukan sekadar upaya diversifikasi kekayaan, melainkan sebuah pengakuan bahwa kendali atas tanah dan teknologi pangan adalah bentuk kekuasaan baru yang lebih nyata daripada sekadar penguasaan data di dunia maya.

Namun, di tengah gelombang investasi global yang kian agresif ini, sebuah pertanyaan besar menghantam kedaulatan kita: di mana posisi Indonesia? Sebagai negara agraris yang secara geografis merupakan tambang emas bagi sektor pertanian, kita memiliki potensi besar untuk dilirik dan menjadi pemain kunci. Data menunjukkan betapa vitalnya sektor ini bagi stabilitas nasional. Baru-baru ini saja prokal.co 05 April 2026 merilis, laporan Monthly Update Februari 2026, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian pada Triwulan IV-2025 tumbuh 5,39 persen (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan PDB nasional sebesar 5,14 persen.

IKLAN AGRARIS

Ironisnya, saat konglomerat di dunia melihat tanah sebagai masa depan, kita di Indonesia justru masih terjebak pada sistem konvensional yang stagnan. Meskipun angka pertumbuhan kita mengukuhkan pertanian sebagai lapangan usaha utama, kita tidak boleh berpuas diri hanya dengan menjadi penyokong angka statistik di atas kertas. Kita harus sadar bahwa kesempatan emas ini akan hilang seketika jika sistem pertanian domestik tetap jalan di tempat tanpa adanya lompatan teknologi yang berarti. Tanpa keberanian untuk menunjukkan kedaulatan dan daya saing yang nyata, kita hanya akan berakhir sebagai penonton pasif dari transformasi global yang sedang menderu.

Jika kita gagal bersaing dan tetap enggan membenahi fundamental pertanian dari hulu ke hilir, sejarah kelam sangat mungkin berulang—kita hanya akan berakhir sebagai buruh dan budak di atas tanah kita sendiri, sementara hasil dan kendali atas tanah tersebut sepenuhnya berada di tangan mereka yang memegang kendali teknologi dan modal global. Kini pilihan ada di tangan kita: apakah kita ingin selamanya memelihara mentalitas budak di tanah sendiri yang tunduk pada modal global, atau kita siap membuktikan kepada dunia bahwa tuan rumah yang sesungguhnya telah bangun dan siap bersaing?

Penulis: Khairul Fadli Rambe
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang