Agraris.id | 2026 — Jambak Sea Turtle Camp di kawasan pesisir Jambak, Kota Padang, didorong untuk berkembang tidak hanya sebagai lokasi konservasi penyu, tetapi juga sebagai pusat agroeduwisata pesisir yang memadukan pendidikan, pelatihan, pengkajian, dan wisata berbasis lingkungan.

Pengembangan tersebut menjadi salah satu fokus dalam kunjungan Agraris Indonesia ke Jambak Sea Turtle Camp. Kawasan ini memiliki lahan sekitar dua hektare yang saat ini dimanfaatkan sebagai area penanaman dan pertumbuhan mangrove. Lahan tersebut dinilai dapat dikembangkan sebagai ruang belajar lapangan bagi mahasiswa, masyarakat, pegiat lingkungan, serta pengunjung untuk mengenal ekosistem pesisir secara langsung.

Keberadaan mangrove di kawasan itu tidak hanya berfungsi sebagai vegetasi pesisir, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi lingkungan di sekitar Jambak Sea Turtle Camp. Kawasan mangrove dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan lingkungan, pengamatan vegetasi, pelatihan pembibitan dan penanaman, pengkajian ekosistem pesisir, serta pengenalan fungsi mangrove dalam menjaga kawasan pantai.

Pengelola Jambak Sea Turtle Camp, Pati Hariyose, mengatakan kawasan tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi lokasi ekowisata yang tidak hanya mengandalkan aktivitas kunjungan.

IKLAN AGRARIS

“Ini berpotensi menjadi ekowisata sebagai pusat pelatihan, pendidikan, dan pengkajian,” ujar Yose.

Menurut Yose, lahan seluas sekitar dua hektare yang telah ditanami mangrove dapat menjadi ruang pengembangan kegiatan bagi mahasiswa. Kegiatan yang dilakukan dapat disesuaikan dengan kondisi kawasan, terutama dengan tetap memperhatikan fungsi mangrove sebagai bagian dari ekosistem pesisir.

“Untuk lahan dua hektare ini, mahasiswa bebas untuk mengembangkan apa yang bisa dikembangkan di sini,” kata Yose.

Lahan mangrove tersebut dapat menjadi ruang praktik bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan. Kegiatan dapat diarahkan pada pengamatan pertumbuhan mangrove, inventarisasi jenis vegetasi, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, hingga pemetaan kondisi kawasan pesisir. Mahasiswa juga dapat menyusun program edukasi bagi pengunjung mengenai peran mangrove dalam menjaga pesisir.

Agroeduwisata menjadi visi bersama dalam pengembangan kawasan pesisir

Bagi Jambak Sea Turtle Camp, pengembangan kawasan sebagai ruang agroeduwisata tidak dapat dipisahkan dari fungsi utamanya sebagai lokasi konservasi penyu. Keberadaan penyu menjadi salah satu nilai utama yang dapat dikenalkan kepada peserta kegiatan melalui pengalaman langsung di lapangan.

“Pengunjung dapat memperoleh pengetahuan mengenai ekosistem pesisir, ancaman terhadap habitat penyu, serta upaya konservasi yang dijalankan di kawasan pesisir ini,” tutur Yose.

Kegiatan wisata di Jambak Sea Turtle Camp dapat dikembangkan dengan prinsip wisata konservasi. Pengamatan mangrove, kegiatan penanaman, edukasi penyu, dan pengenalan kondisi pesisir dapat dikemas menjadi kegiatan kunjungan yang memberi pengalaman belajar bagi pengunjung.

Dalam pengembangan kawasan, Agraris Indonesia dan Jambak Sea Turtle Camp resmi menjalin kerja sama melalui skema Benefit Partnership. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) pada 28 September 2026 oleh Direktur Utama Agraris Indonesia, Arif Zulpriansyah Siregar, S.P., bersama pengelola Jambak Sea Turtle Camp, Patih Hariyose.

Direktur Utama Agraris Indonesia, Arif Zulpriansyah Siregar, S.P., mengatakan kerja sama itu menjadi langkah awal untuk menjadikan Jambak Sea Turtle Camp sebagai salah satu lokasi pelatihan dalam jejaring Agraris Indonesia.

“Jambak Sea Turtle Camp ini nantinya akan menjadi salah satu tempat pelatihan yang dinaungi oleh Agraris Indonesia,” ujar Direktur Utama Agraris Indonesia.

Melalui kerja sama tersebut, Agraris Indonesia melakukan penjajakan potensi kawasan secara langsung. Kunjungan lapangan dilakukan untuk melihat kondisi pesisir Jambak, mengenali peluang pemanfaatan lahan mangrove, serta mengidentifikasi bentuk kegiatan yang dapat dikembangkan bersama pengelola dan masyarakat sekitar.

Membangun kolaborasi dalam mewujudkan agroeduwisata berkelanjutan

Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat pendekatan ekonomi biru di kawasan pesisir Jambak. Dalam pendekatan tersebut, potensi laut dan pesisir tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi, tetapi juga dikelola dengan memperhatikan kelestarian ekosistem dan keberlanjutan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Kawasan penanaman mangrove di Jambak Sea Turtle Camp

Jambak Sea Turtle Camp diproyeksikan menjadi ruang pembelajaran yang menghubungkan konservasi penyu, pelestarian mangrove, dunia pendidikan, dan masyarakat. Mahasiswa dapat menggunakan kawasan sebagai laboratorium terbuka, sedangkan masyarakat dan pengunjung dapat memperoleh pengetahuan langsung mengenai pentingnya menjaga pesisir serta habitat satwa laut.

Dengan keberadaan lahan mangrove, kawasan konservasi penyu, serta dukungan kemitraan bersama Agraris Indonesia, Jambak Sea Turtle Camp berpeluang berkembang menjadi pusat agroeduwisata pesisir di Kota Padang.

Penulis: Melisa Rahma Putri | Editor: Khairul Fadli Rambe