Agraris.id | 2026 — Di antara hamparan mangrove di Pasir Jambak, pandangan saya tertahan oleh benda-benda kecil berwarna hitam yang tergeletak di sekitar area pembibitan. Bentuknya sederhana, hampir tidak menarik perhatian, dan mudah dianggap sebagai sampah biasa. Namun, ketika saya mendekat, benda itu ternyata adalah polybag bekas. Sebuah wahana kecil yang pernah menumbuhkan bibit mangrove sebelum akhirnya ditinggalkan.

Dari sana, sebuah pertanyaan sederhana muncul di kepala saya: setelah membantu menumbuhkan mangrove, apakah polybag itu harus berakhir menjadi limbah?

Pertanyaan itu muncul saat Agraris Indonesia melaksanakan Company Field Mission di Jambak Sea Turtle Camp, Pasir Jambak, Kota Padang, Senin (28/9/2026). Mengusung tema “Exploring Blue Economy, Building Sustainable Ecosystems”, kunjungan tersebut membawa kami melihat lebih dekat ekosistem pesisir—bukan hanya mangrove yang ditanam, tetapi juga persoalan yang muncul dari proses penanamannya.

Polybag di Balik Pembibitan Mangrove

Saat mendekati area pembibitan, sejumlah polybag bekas terlihat berserakan di sekitar lahan. Sebelumnya, wadah-wadah plastik itu digunakan untuk menumbuhkan bibit mangrove sebelum dipindahkan ke lokasi penanaman. Ketika bibit telah tumbuh dan siap ditanam, polybag pun kehilangan fungsinya.

Di titik itulah persoalan kecil mulai terasa penting. Pembibitan mangrove tentu merupakan kegiatan baik bagi pesisir. Namun, jika polybag yang digunakan tidak dikelola setelahnya, proses penghijauan tersebut tetap menyisakan potensi sampah plastik.

Polybag bekas bibit mangrove yang berserakan di sekitar lokasi konservasi.

Mangrove selama ini dikenal bukan sekadar tumbuhan di garis pantai. Ekosistem ini berkaitan dengan perlindungan pesisir, keanekaragaman hayati, penyerapan karbon, hingga penghidupan masyarakat di sekitarnya. Karena itu, menjaga mangrove semestinya juga diikuti oleh perhatian terhadap limbah yang lahir dari kegiatan pendukungnya.

Pengelola Jambak Sea Turtle Camp, Patih Hariyose, menyampaikan bahwa masyarakat setempat pernah mengolah sampah plastik menjadi paving block. Pengalaman tersebut, bagi saya, membuka kemungkinan baru bahwa polybag bekas pembibitan mangrove mungkin belum benar-benar selesai menjalankan fungsinya.

Ketika Limbah Menjadi Peluang

Polybag bekas memang tampak sepele bila dilihat satu per satu. Akan tetapi, dalam kegiatan pembibitan yang berlangsung berulang, jumlahnya bisa terus bertambah. Di kawasan pesisir yang tengah berusaha memulihkan lingkungan, tumpukan plastik tentu menjadi ironi yang perlu dipikirkan bersama.

Salah satu kemungkinan yang dapat dipertimbangkan ialah mengolah polybag tersebut menjadi bahan baku paving block. Gagasan ini bukan semata-mata soal mengurangi sampah, melainkan tentang mengubah limbah yang dianggap tidak berguna menjadi material yang masih memiliki nilai.

Pengolahan sampah plastik menjadi paving block telah dilakukan dalam sejumlah inisiatif di kawasan pesisir, termasuk dalam program Mangrove Blue Carbon di Banten. Dalam praktiknya, masyarakat dilatih melakukan pemilahan, pencacahan, pembersihan, peleburan, hingga pencetakan plastik dengan campuran material tertentu.

Di Pasir Jambak, masyarakat sebenarnya telah memiliki pengalaman awal dalam mengolah sampah plastik menjadi paving block. Sayangnya, kegiatan tersebut tampaknya belum berlanjut hingga saat ini. Kemungkinan besar, hal itu dipengaruhi oleh tantangan teknis, termasuk karakteristik bahan plastik yang digunakan. Karena itu, pengalaman tersebut semestinya tidak dibiarkan berhenti, melainkan terus didorong agar dapat dikembangkan kembali secara lebih terarah.

Bagi saya, praktik seperti ini menunjukkan bahwa ekonomi biru tidak selalu harus dimulai dari program besar atau teknologi yang rumit. Ia dapat dimulai dari persoalan yang ada di depan mata: sampah plastik yang tersisa setelah pembibitan mangrove.

Dari Mangrove untuk Mangrove

Bayangkan apabila polybag bekas pembibitan di Pasir Jambak dapat dikumpulkan, dipilah, lalu diolah secara tepat menjadi paving block. Hasilnya mungkin dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan kawasan, seperti jalur setapak, area kegiatan, atau fasilitas pendukung di sekitar lokasi konservasi.

Namun, agar gagasan ini benar-benar dapat berjalan, pemilihan bahan pembuatan polybag sejak awal perlu dipertimbangkan. Agaknya, polybag yang digunakan dalam pembibitan mangrove sebaiknya berbahan yang mendukung proses pengolahan menjadi paving block. Dengan demikian, setelah bibit mangrove selesai dipindahkan, polybag tersebut tidak hanya menjadi limbah, tetapi masih dapat diproduksi kembali menjadi produk yang bermanfaat.

Tentu, gagasan ini tidak boleh dijalankan secara sembarangan. Jenis plastik, kondisi bahan, komposisi campuran, metode pengolahan, serta kekuatan produk akhirnya perlu diuji terlebih dahulu. Jangan sampai niat mengurangi limbah justru menghasilkan persoalan lingkungan baru.

Namun, nilai terbesar dari gagasan tersebut bukan hanya pada produk paving block. Yang lebih penting ialah membangun siklus pengelolaan: mangrove dibibitkan, polybag dikumpulkan setelah digunakan, limbah diolah, lalu hasilnya kembali menunjang kawasan pesisir.

Partisipasi masyarakat menjadi unsur penting dalam pendekatan seperti ini. Pengembangan ekonomi biru di kawasan mangrove perlu tetap mengutamakan kelestarian ekosistem dan keterlibatan aktif warga pesisir agar manfaatnya tidak berhenti pada kegiatan lingkungan, tetapi juga menyentuh penghidupan masyarakat.

Kunjungan ke Jambak Sea Turtle Camp ini mengingatkan saya bahwa keberlanjutan tidak berhenti ketika satu bibit mangrove berhasil ditanam. Keberlanjutan juga berbicara tentang apa yang kita lakukan terhadap hal-hal yang tersisa setelah proses penanaman berlangsung.

Polybag bekas mungkin tidak langsung menyelesaikan persoalan besar di pesisir. Namun, perhatian terhadap benda kecil itu dapat menjadi awal dari kebiasaan baru: melihat limbah bukan semata sebagai akhir, melainkan sebagai kemungkinan.

Dari sebuah polybag bekas, mungkin ada kehidupan kedua yang dapat tumbuh—bukan lagi sebagai wadah bibit mangrove, tetapi sebagai bagian dari upaya menjaga pesisir dan menguatkan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

Penulis: Salsabilla Diva, S.Tr.P.
Lulusan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor