Agraris.id | 2026 — Pengelola Jambak Sea Turtle Camp, Patih Hariyose, merawat mangrove di kawasan Pasir Jambak, Kota Padang, dengan memperhatikan setiap tahapan pertumbuhan bibit. Perawatan itu dimulai dari pemilihan bibit, penerapan metode tanam rumpun berjarak, pembukaan polibag, penentuan waktu pemindahan, hingga pemberian masa transisi sebelum bibit ditanam di lokasi akhir.

Jambak Sea Turtle Camp berlokasi di Jalan Pasir Jambak, Kelurahan Pasie Nan Tigo, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Di kawasan konservasi tersebut, mangrove menjadi salah satu ekosistem pesisir yang terus dijaga.

Bagi Hariyose, menanam mangrove bukan sekadar memindahkan bibit ke tanah. Setiap bibit memerlukan perlakuan berbeda agar mampu bertahan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan pesisir.

Salah satu metode yang diterapkan di kawasan tersebut adalah penanaman dengan sistem rumpun berjarak. Sekitar 50 bibit ditempatkan dalam satu rumpun pada petak tertentu yang dilengkapi pagar bambu dan jaring.

IKLAN AGRARIS

“Metode yang dipakai di sini adalah rumpun berjarak untuk meminimalkan kematian serempak,” ujar Hariyose.

Menurutnya, pola tersebut diterapkan agar bibit tidak terkonsentrasi dalam satu hamparan. Dengan demikian, risiko seluruh tanaman mati dalam waktu yang sama dapat ditekan.

“Namun, tidak semua bibit dalam satu rumpun dapat bertahan. Dari sekitar 50 bibit yang ditanam, hanya beberapa belas yang mampu tumbuh,” pungkasnya.

Kondisi itu menunjukkan bahwa keberhasilan penanaman mangrove tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam. Pemeliharaan setelah penanaman juga menjadi bagian penting agar bibit dapat bertahan dan berkembang.

Memperhatikan Usia dan Kondisi Akar

Hariyose mengatakan, asal dan usia bibit turut memengaruhi tingkat keberhasilan penanaman. Bibit yang didatangkan dari luar kawasan dan telah berusia lebih dari empat bulan dinilai memiliki risiko kematian lebih tinggi.

Pada usia tersebut, akar bibit biasanya telah keluar dari polibag. Kondisi itu dapat menyebabkan akar mengalami kerusakan ketika bibit dipindahkan.

“Kalau bibit sudah lebih dari empat bulan, biasanya akar sudah keluar. Risiko matinya lebih tinggi ketika dipindahkan,” tuturnya.

Selain usia, kondisi polibag juga perlu diperhatikan. Sebelum dipindahkan, polibag harus dibuka agar akar tidak terus terjebak di dalam wadah.

“Polibagnya harus dibuka. Kalau tidak dibuka, akar akan terjebak dan lama-lama bisa membusuk,” ujarnya.

Karena itu, ia lebih mengutamakan bibit yang diproduksi sendiri. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko kerusakan akar sejak tahap pembibitan.

Pemindahan bibit ke lokasi tanam dilakukan setelah tanaman mencapai usia sekitar 2,5 bulan. Selain usia, jumlah daun juga menjadi indikator kesiapan bibit.

“Usia pindah tanaman yang cocok itu 2,5 bulan, dengan jumlah daun empat sampai enam helai,” kata Yose.

Usia dan jumlah daun digunakan sebagai acuan untuk memastikan bibit telah cukup kuat sebelum dipindahkan dari tempat pembibitan. Pemindahan tidak dilakukan hanya berdasarkan perkiraan, tetapi juga dengan melihat kondisi pertumbuhan masing-masing bibit.

Bagi Hariyose, membaca kesiapan bibit merupakan bagian penting dalam merawat mangrove. Bibit perlu dipindahkan pada waktu yang tepat agar mampu menghadapi kondisi lingkungan baru.

Bibit Membutuhkan Masa Transisi

Bibit yang telah memenuhi usia dan jumlah daun belum langsung ditanam di lokasi akhir. Bibit terlebih dahulu diberi waktu untuk menyesuaikan diri.

Hariyose menjelaskan, sebagian bibit dibawa dari kawasan pesisir selatan sehingga membutuhkan proses adaptasi sebelum ditanam di Pasir Jambak.

“Kita membawa bibit dari pesisir selatan. Bibit tidak langsung ditanam, tetapi harus melalui proses penyesuaian terlebih dahulu,” ujarnya.

Masa transisi tersebut diberikan agar bibit tidak mengalami perubahan lingkungan secara mendadak. Perbedaan kondisi tempat pembibitan dan kawasan pesisir dapat memengaruhi kemampuan tanaman untuk bertahan.

Dengan adanya masa adaptasi, bibit memiliki waktu untuk menyesuaikan diri sebelum menghadapi kondisi lingkungan di lokasi penanaman.

Menjaga Mangrove dari Setiap Tahap

Perawatan mangrove di Jambak Sea Turtle Camp menunjukkan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada kegiatan penanaman. Setiap tahap, mulai dari memilih bibit hingga merawat tanaman setelah dipindahkan, turut menentukan keberlangsungan hidup mangrove.

Suasana area lahan konservasi mangrove di pantai pasir jambak, Kota Padang.

Metode rumpun berjarak diterapkan untuk mengurangi risiko kematian serempak. Bibit dipilih berdasarkan usia dan kondisinya, polibag dibuka agar akar dapat berkembang, waktu pemindahan diperhatikan, dan masa transisi diberikan sebelum bibit ditanam di lokasi akhir.

Di Pasir Jambak, memelihara mangrove berarti memahami kebutuhan tanaman pada setiap tahap pertumbuhannya. Upaya tersebut menjadi bagian dari menjaga ekosistem pesisir sekaligus mempertahankan kawasan konservasi yang dikelola Jambak Sea Turtle Camp.

Penulis: Akhiroti Hasanah | Editor: Khairul Fadli Rambe