Agraris.id | 2026 — Saya berangkat ke Jambak Sea Turtle Camp bersama tim Agraris Indonesia dan para peserta magang membawa satu dugaan sederhana bahwa agenda Company Field Mission ini hanyalah sekadar kunjungan lapangan—sebuah rutinitas untuk meninjau lokasi, mempelajari secara teknis konsep konservasi penyu dan Ekonomi Biru, lalu pulang membawa catatan serta dokumentasi acara.

Ternyata, yang saya bawa pulang bukan sekadar catatan atau pemahaman konseptual. Yang saya bawa pulang adalah sesuatu yang lebih dalam, lebih sunyi, dan lebih manusiawi yaitu sebuah penghayatan batin yang dalam bahasa sederhana disebut dengan rasa.

Semuanya berubah ketika saya bertemu dan berbincang dengan Pati Hariyose, atau yang akrab disapa Yose. Ia tidak mengawali ceritanya dengan deretan angka, target, maupun laporan kegiatan, melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih sunyi dan mendalam: sebuah empati dan kepedulian.

Dua belas tahun. Itulah durasi pengabdiannya di Pantai Pasir Jambak, Kota Padang. Dua belas tahun menjadi pegiat lingkungan, pendiri pusat konservasi, dan penjaga garis depan ekosistem pesisir yang sering kali terlupakan.

IKLAN AGRARIS

Yang paling berkesan adalah bagaimana ia memulainya secara mandiri tanpa menunggu bantuan atau regulasi. Semua dilakukan demi satu tujuan: menghentikan perburuan liar telur dan induk penyu. Di tengah keterbatasan masa awal, ia bahkan rela menjual Vespa kesayangannya agar operasional penangkaran tetap berjalan.

Orang yang menghitung untung rugi tidak akan mengambil keputusan seperti itu. Tapi Yose bukan orang seperti itu. Ia memutuskan karena ada sesuatu yang tidak sanggup ia biarkan—sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang sudah merasa berutang pada alam.

Dua Keresahan, Satu Lingkaran

Setelah mendengar ceritanya, saya perlahan memetakan apa yang sebenarnya menggerakkan Yose selama dua belas tahun terakhir. Ada dua keresahan, tapi keduanya ternyata satu lingkaran.

Keresahan pertama adalah keberlanjutan ekosistem. Penyu diburu, telurnya diambil, pesisir kian terancam. Kalau tidak ada yang berdiri di garis depan, yang hilang bukan hanya satu spesies. Yang runtuh adalah seluruh ekosistem pantai—tempat banyak kehidupan bergantung. Karena itu, kerja Yose tidak berhenti pada penyu. Ia juga menggerakkan pembibitan mangrove dan mengedukasi warga soal sampah pesisir. Semuanya terhubung dalam satu napas: menjaga kawasan biru.

Keresahan kedua adalah ekonomi masyarakat. Yose ingin mengenalkan Ekonomi Biru—gagasan bahwa laut dan pesisir bisa menghidupi warga tanpa harus dirusak. Bagi banyak orang, istilah ini terdengar seperti jargon seminar. Tapi di Pasir Jambak, ia bisa disaksikan langsung.

Pasir Jambak kini tumbuh menjadi kawasan wisata yang hidup. Tempat di mana warga lokal bisa berjualan, berdagang, dan memutar roda perekonomian dari setiap pengunjung yang datang. Secara tidak langsung, gerakan pelestarian ini menciptakan efek domino yang dirasakan oleh seluruh masyarakat: konservasi melahirkan daya tarik wisata, hadirnya wisata menghidupkan ekonomi warga, dan ekonomi yang berdaya akhirnya memberi alasan kuat bagi semua orang untuk menjaga alamnya.

Dua keresahan itu sebenarnya satu lingkaran. Alam yang lestari menghidupi ekonomi, dan ekonomi yang sehat membuat warga bersedia merawat alam.

Mereka yang Bertanggung Jawab Tanpa Jabatan

Sekali lagi, yang paling membuat saya tertegun bukan pada angka atau capaian selama ini yang beliau lakukan. Yang membuat saya diam adalah melihat siapa yang menjalankannya.

Beliau bukan pejabat. Bukan pemodal. Bukan orang yang punya kekuasaan menentukan kebijakan. Beliau masyarakat biasa—dengan tenaga dan waktu yang terbatas—yang hanya ingin membayar utang kepada alam yang telah memberikan kehidupan.

Rasanya tidak ada frasa yang lebih tepat untuk menggambarkan gerakan ini selain membayar hutang kepada alam. Sebelum manusia berbuat sesuatu, alam sudah lebih dulu memberi segalanya: pantai memberi ruang usaha, laut memberi kelangsungan hidup, dan pesisir merawat identitas mereka. Langkah beliau untuk menjaga kawasan ini adalah bentuk pengembalian atas kebaikan tersebut. Lagi pula, kepedulian yang berakar dari rasa tahu diri dan berutang budi akan selalu lebih kuat dibanding kepatuhan yang lahir dari ketakutan akan sanksi.

Pelajaran yang Lebih Luas dari Jambak Sea Turtle Camp

Kunjungan ke Jambak Sea Turtle Camp menyadarkan saya pada sebuah kenyataan yang getir: keberlanjutan lingkungan acap kali tidak diselamatkan oleh mereka yang duduk di kursi kekuasaan atau memegang wewenang anggaran, melainkan oleh masyarakat biasa yang minim sumber daya tetapi kaya akan empati.

Tanpa perintah dan tanpa menghitung untung-rugi, warga bergerak secara swadaya hanya karena merasa bertanggung jawab atas rumah tinggalnya. Jika kepedulian ini tak pernah dimiliki oleh para pembuat kebijakan, maka seluruh program konservasi pemerintah tak lebih dari sekadar proyek musiman yang mati begitu anggarannya habis.

Pasir Jambak telah memberi pelajaran yang tak tertulis dalam modul manapun—bahwa melestarikan alam adalah tentang kesadaran jiwa, dan kejujuran nurani warga lokal telah berhasil menutupi kelalaian mereka yang berkuasa.

Pati Hariyose, perintis dan pengelola Jambak Sea Turtle Camp.

Terimakasih banyak Bang Pati Hariyose atas kesempatan, kesediaan waktu, dan sambutan hangatnya untuk kami dan para peserta magang di Agraris Indonesia selama di Jambak Sea Turtle Camp. Insight dan cerita perjuangan yang disampaikan benar-benar membakar semangat serta membuka mata kami tentang arti kepedulian yang jujur terhadap alam.

Penulis: Khairul Fadli Rambe
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang