Agraris.id | 2026 — Diniyyah Pasia Alumni Gathering II menghadirkan diskusi pemuda bersama dua pemateri, yakni Ketua Umum Pengurus Nasional Pemimpin Muda Pertanian Indonesia (PMPI), Arif Zulpriansyah Siregar, S.P. yang sekaligus Direktur Utama Agraris Indonesia dan Sekretaris DPD KNPI Sumatera Barat, Muhammad Nazhif, S.H. Diskusi digelar di Pantai Pasir Jambak, Kota Padang, Sabtu (3/10/2026) pukul 20.00 WIB.

Moderator membuka sesi dengan memperkenalkan kedua narasumber yang dikenal aktif di dunia kepemudaan. Keduanya diminta menyampaikan pandangan tentang kondisi pemuda hari ini dan arah yang semestinya ditempuh pemuda ke depan.

Muhammad Nazhif, S.H. mengawali pemaparannya dari hilangnya sifat keteladanan di tengah masyarakat, yang ia sebut sebagai krisis keteladanan. Dari titik itu, ia membahas bagaimana pemuda dapat tampil sebagai pemimpin yang berkarakter.

“Ada tiga poin yang saya rasa harus dimiliki pemuda hari ini, pertama personality, kedua capability, dan ketiga integrity,” ujarnya.

IKLAN AGRARIS

Poin pertama, personality, menyangkut kepribadian dan sikap. Pemuda yang dipercaya memimpin harus lebih dulu pantas dijadikan contoh dalam tutur kata dan perilaku sehari-hari. Poin kedua, capability, adalah kemampuan atau kompetensi. Niat baik saja tidak cukup, pemuda harus memiliki keahlian untuk menjalankan peran yang diembannya. Poin ketiga, integrity, adalah konsistensi antara ucapan dan perbuatan, terutama saat tidak ada yang mengawasi.

Menurut Nazhif, ketiganya harus berjalan beriringan. Pemuda yang hanya unggul di salah satu aspek belum cukup untuk menjadi teladan bagi lingkungannya.

Paradoks Generasi Emas

Sementara itu, Arif Zulpriansyah Siregar, S.P. menyoroti tantangan pemuda hari ini yang dituntut negara untuk menjadi generasi emas pada 2045.

Ia menyebut pemuda saat ini memikul tantangan yang kerap belum tuntas pada dirinya sendiri, tetapi sudah dibebani untuk memikirkan hal lain. Ruang percakapan pemuda, katanya, banyak diisi isu kesehatan mental (mental health), LGBT, hingga kegalauan.

“Anak muda hari ini kadang urusan dengan dirinya sendiri belum selesai, tapi sudah dituntut memikirkan banyak hal lain,” kata Arif.

Ia menilai algoritma media sosial hampir tidak pernah mengangkat pemuda yang telah meraih capaian di usia muda. Kondisi inilah yang disebutnya sebagai paradoks.

“Algoritma media sosial tidak pernah membicarakan pemuda yang sudah berprestasi di usia muda. Inilah paradoks yang dihadapi pemuda saat ini,” tegasnya.

Diniyyah Pasia Membuat Jalannya Sendiri

Pada akhirnya, Arif menegaskan bahwa persoalan pemuda tidak lagi soal menjadi sosok yang begini atau begitu menurut standar orang lain. Pemuda, menurutnya, harus membuat jalannya sendiri dan terus menjadi dirinya sendiri.

“Pemuda hari ini tidak diminta untuk menjawab apa yang dipikirkan, tetapi apa yang telah dilakukan,” pungkasnya.

Diskusi ini menjadi ruang refleksi bagi para alumni dan peserta yang hadir untuk menakar kembali peran pemuda, dari keteladanan dalam kepemimpinan hingga keberanian menjalani jalan sendiri menuju Indonesia Emas 2045.

Para peserta mengikuti jalannya diskusi dengan antusias dari awal hingga akhir. Forum yang berlangsung di tepi Pantai Pasir Jambak itu tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi berlanjut menjadi percakapan yang hidup antara peserta dan pemateri tentang keteladanan, tantangan generasi muda, dan keberanian menentukan arah sendiri.

Diniyyah Pasia Alumni Gathering II

Bagi peserta yang sedang menapaki dunia perkuliahan, forum ini menjadi ruang pertama untuk mulai beradaptasi: belajar menyampaikan gagasan, mendengar sudut pandang yang berbeda, dan berani bersikap di hadapan orang lain. Dari tepi pantai malam itu, mereka membawa pulang satu pesan yang menjadi titik tolak langkah berikutnya, bahwa kampus bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan ruang untuk membuktikan apa yang telah dan akan dilakukan. [Mbee]