Asahan, 2026 — Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Asahan, khususnya di wilayah Sionggang, mulai mengubah pola fluktuasi harga pangan di pasar lokal. Saat ini, harga berbagai kebutuhan pokok cenderung tetap atau stagnan, tidak mengalami kenaikan namun juga tidak menunjukkan penurunan, karena mengikuti standar pagu anggaran program tersebut.

Kondisi ini menimbulkan dilema baru di tengah masyarakat dan pedagang. Biasanya, harga pangan akan turun secara otomatis apabila pasokan di pasar melimpah akibat panen raya, menurunnya permintaan pasca-Lebaran, atau lancarnya jalur distribusi logistik. Namun, tren pasar tersebut kini tidak berlaku karena pasokan pangan terus terserap secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan bahan baku MBG.

Harga pangan di Sionggang sekarang mengikuti taraf MBG sebesar 10.000 rupiah. Jadi, tidak ada lagi penurunan harga yang biasanya mengikuti hukum pasar. Sekarang harganya tetap, tak naik dan tak turun,” ujar Salbiah br Pane, salah seorang warga setempat saat memberikan keterangan.

Secara teknis, fenomena ini memberikan keuntungan sekaligus kerugian bagi konsumen. Kelebihannya adalah bahan pokok yang masuk kategori murah atau standar akan tetap terjaga harganya dan tidak mengalami lonjakan. Namun, argumen dari hasil lapangan menunjukkan bahwa daya tawar pasar menjadi hilang saat stok melimpah, karena harga bahan baku dipaksa menyesuaikan dengan nilai kontrak penyediaan makanan yang sudah tetap.

IKLAN AGRARIS

Salbiah menjelaskan lebih lanjut bahwa standar harga ini menyebabkan beberapa komoditas sulit untuk turun dari angka tertentu.

Hal itu disebabkan harga dari taraf MBG yang seporsinya 10.000 rupiah. Kondisi ini membuat harga ayam dan bahan pangan lainnya tetap berada di posisi atas saja,” tambahnya.

Meskipun distribusi logistik berjalan tanpa kendala, keterikatan harga pasar terhadap biaya produksi per porsi MBG membuat dinamika pasar tradisional di Asahan kini menjadi lebih kaku dibandingkan sebelumnya.[Mbee]