Agraris.id | 2026 Sebagai negara agraris, hamparan sawah dan ladang selalu menjadi denyut nadi kehidupan bangsa kita. Namun, di tengah pesatnya laju zaman, ada sebuah pemandangan kontras yang patut kita renungkan bersama. Jika kita berkunjung ke sentra-sentra pertanian hari ini, wajah-wajah yang mendominasi lahan sebagian besar adalah para petani senior yang telah puluhan tahun mengabdi pada tanah. Sementara itu, Generasi Z, yakni mereka yang lahir di pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an tampak lebih banyak mengisi ruang-ruang industri kreatif, perkantoran modern, atau sektor ekonomi digital di perkotaan.

Pemandangan ini tak pelak memunculkan sebuah pertanyaan di ruang publik: ke mana perginya anak muda kita? Data Sensus Pertanian 2023 dari Badan Pusat Statistik (BPS) pun menunjukkan realitas serupa, di mana proporsi petani milenial dan Gen Z masih terbilang minim. Sebagian pihak lantas mengambil kesimpulan yang tergesa-gesa bahwa generasi muda saat ini enggan kotor, kurang tangguh, atau tidak lagi tertarik pada urusan pangan.

Namun, sebelum kita terjebak dalam anggapan tersebut, mari kita menelaah fenomena ini dengan lebih jernih. Benarkah Gen Z secara natural menghindari pertanian, atau sebenarnya ekosistem sektor inilah yang belum menawarkan masa depan yang relevan bagi mereka?

Menilai Gen Z sekadar dari keengganan mereka turun ke sawah lumpur adalah sebuah simplifikasi. Mereka adalah generasi yang tumbuh di era keterbukaan informasi, sangat pragmatis, dan melek literasi finansial. Bagi mereka, pertimbangan utama dalam memilih profesi bukanlah soal kotor atau bersihnya sebuah pekerjaan, melainkan pada stabilitas dan kepastian struktural.

IKLAN AGRARIS

Realitasnya, profesi petani konvensional saat ini masih lekat dengan risiko tinggi. Di hulu, petani kerap dihantam fluktuasi harga sarana produksi dan ancaman gagal panen akibat perubahan iklim yang kian ekstrem. Di hilir, harga jual komoditas acap kali berada di luar kendali mereka, sering kali anjlok drastis justru di saat panen raya. Sangat rasional apabila seorang pemuda berpikir dua kali untuk mempertaruhkan masa depan finansialnya pada ekosistem bisnis yang sulit memproyeksikan keuntungan. Generasi muda tidak menjauhi pertanian; mereka hanya menghindari ketidakpastian ekonomi.

Tantangan ini diperparah oleh penyusutan akses kepemilikan lahan. Struktur agraria kita masih didominasi oleh petani gurem. Lahan warisan di perdesaan terus terpecah dan menyusut, sementara harga tanah baru melambung ke titik yang tak terjangkau jika dikalkulasikan dengan laba menanam komoditas biasa. Terjepit ketiadaan lahan dan modal, mencari peruntungan di luar sektor agraris menjadi pilihan yang paling masuk akal bagi mereka.

Namun, di tengah tantangan tersebut, ruang digital justru memperlihatkan harapan. Belakangan ini semakin banyak bermunculan agripreneur muda yang dengan bangga mengelola pertanian berbasis smart farming, perkebunan hidroponik, hingga pemanfaatan teknologi IoT (Internet of Things) untuk presisi irigasi. Ini membuktikan satu hal krusial: ketika pertanian dikawinkan dengan teknologi, kepastian data, dan prospek bisnis yang jelas, Gen Z akan dengan senang hati terjun ke dalamnya. Mereka mungkin menolak bertani dengan cara lama, tetapi mereka sangat antusias jika diposisikan sebagai manajer agribisnis modern.

Di sinilah letak peluang emas kita. Menghadapi Gen Z, pendekatan negara harus berubah. Program yang bersifat seremonial atau sekadar bantuan fisik sudah tidak cukup. Skema yang diharapkan hanya tiga:

Pertama, pemerintah perlu memitigasi risiko dengan menghadirkan asuransi pertanian yang lebih komprehensif dan mudah diakses. Kepastian ini akan menjadi bantalan psikologis bagi pemuda untuk berani berinvestasi di sektor pangan. Kedua, akses permodalan harus dirombak. Skema kredit bagi pemuda tani perlu mengedepankan kelayakan bisnis inovatif mereka (feasibility) ketimbang hanya bergantung pada agunan aset fisik. Ketiga, dorong konsolidasi melalui koperasi pertanian berbasis digital, agar anak-anak muda ini memiliki daya tawar yang kuat di pasar dan tidak berjuang sendirian.

Masa depan ketahanan pangan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa sering kita menggaungkan jargon swasembada, melainkan oleh cara kita membangun ruang yang ramah bagi Generasi Z hari ini. Mereka adalah bibit-bibit unggul yang menunggu ekosistem yang tepat untuk tumbuh. Mari berhenti terjebak pada stigma, dan mulailah berbenah membangun sektor agribisnis yang modern, menguntungkan, serta bermartabat bagi generasi penerus bangsa.

Penulis: Putri Melissa
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UIN Imam Bonjol Padang