Agraris.id | 2026 — Usaha gula aren di Jorong Andaleh Baruh Bukik telah memasarkan produknya hingga ke luar Sumatera Barat, mencakup Riau (Teluk Kuantan), Kalimantan, Jambi, Bengkulu, dan Medan, selain pasar lokal di kawasan Lubuk Buaya, Padang.

Berdasarkan pantauan team agraris.id di lokasi, rumah produksi ini berada di lingkungan yang asri, dikelilingi pepohonan dan pemandangan alam pedesaan. Dalam proses pengolahannya, pekerja terlihat menggunakan sarung tangan dan menjaga kebersihan di area produksi.

Nisrawati (56), salah satu pekerja di usaha tersebut, telah menjalani proses produksi gula aren ini selama 12 tahun. Satu proses pembuatan gula aren memakan waktu sekitar delapan jam, mulai dari pengolahan nira hingga menjadi gula cetak siap jual.

“Rumah produksi ini telah berjalan hingga 12 tahun lamanya, sekali produksi pembuatan gula aren memakan waktu sekitar delapan jam lamanya,” ucapnya.

IKLAN AGRARIS

Menurut Nisrawati, gula aren diyakini sebagai alternatif bagi penderita gangguan gula darah dibanding gula pasir, salah satunya untuk campuran kopi. Produk ini kerap digunakan oleh kafe dan hotel di setiap kota di Sumatra Barat.

“Gula aren ini pengganti gula pasir bagi penderita penyakit gula, salah satunya untuk membuat kopi,” ujar Nisrawati.

“Permintaan dari luar kota seperti Riau, Kalimantan, Jambi, Bengkulu, dan Medan itu ada, termasuk untuk kafe dan hotel di sana,” tambahnya.

Selain nira yang diolah menjadi gula, batang pohon aren juga dimanfaatkan warga setempat untuk berbagai keperluan, mulai dari bahan tali, hingga tiang gawang lapangan bola.

“Sedangkan batangnya dipakai untuk tali, jadi gawang juga lapangan bola. Sama seperti kelapa, berguna dari akar sampai pohon dan buahnya,” ucap Nisrawati.

Sementara itu, Yani (39), menantu Nisrawati yang turut terlibat dalam usaha ini, menyampaikan bahwa di rumah produksi ini membuat gula aren dan gula semut serta menjelaskan perbedaan antara gula tersebut yang sama-sama diproduksi di tempat ini.

“Di sini produksinya bukan hanya gula aren, melainkan juga gula semut. Perbedaannya hanya pada pengelolaan. Cetakan gula aren berbentuk cetakan tempurung dan cetakan petak, sedangkan gula semut lebih halus dan proses pembuatannya lebih sulit,” pungkas Yani.

Penulis: Khairul Fadli Rambe | Reporter: Diko Okta Siswandra