Agraris.id | 2026 — Kunjungan lapangan bersama Pak Rimbra, pemilik Ekowisata Sungkai Green Park, memberi saya sudut pandang baru tentang apa artinya bertani. Bagi beliau, pertanian bukan sekadar aktivitas menanam dan memanen, melainkan bentuk kepedulian terhadap lingkungan, kesehatan, dan keberlanjutan masa depan.

Salah satu hal yang paling menarik perhatian saya adalah cara Pak Rimbra membuat pupuk organik cair. Ia sengaja meracik pupuk itu dari bahan-bahan yang minimalis—bukan karena keterbatasan, melainkan karena landasan yang ia pegang, pupuk yang dibuat harus menyehatkan tanaman sekaligus tidak membebani lingkungan di sekitarnya.

Prinsip inilah yang menurut saya membedakan pendekatannya dari pertanian organik yang sekadar mengganti label kimia menjadi organik tanpa benar-benar memikirkan dampak jangka panjangnya terhadap tanah dan ekosistem.

Selain pupuk organik, Pak Rimbra juga memperkenalkan budidaya tanaman sungkai dan konsep agrowisata yang memadukan edukasi dengan pemberdayaan masyarakat sekitar. Sungkai Green Park sendiri ia bangun sebagai ruang belajar sekaligus ruang usaha—tempat pengunjung tidak hanya menikmati suasana, tapi juga melihat langsung bagaimana pertanian organik bisa dikelola secara serius dan bernilai ekonomi.

IKLAN AGRARIS

Namun kunjungan ini tidak melulu soal cerita optimis. Pak Rimbra juga menyampaikan kritik terhadap minimnya dukungan kebijakan bagi petani organik seperti dirinya—sebuah keluhan yang ia sampaikan dengan nada berpengalaman, meski tidak merinci lebih jauh detail teknisnya kepada kami.

Saya tidak dalam posisi menilai apakah kritik itu sepenuhnya berdasar tanpa membandingkannya dengan data dan kebijakan yang berlaku, tapi keluhan semacam ini patut menjadi catatan: petani organik di lapangan merasa perjuangan mereka menjaga lingkungan belum diimbangi dukungan yang setara dari sisi kebijakan.

Yang paling saya ingat justru bukan penjelasan teknis Pak Rimbra, melainkan semangatnya membagikan ilmu itu kepada mahasiswa yang datang. Ia mengajak kami untuk tidak hanya mengejar gelar, tapi berani melihat pertanian dan kewirausahaan sebagai peluang nyata. Bagi saya, itu pengingat bahwa ilmu pertanian tidak banyak artinya jika berhenti di ruang kelas dan tidak pernah diuji di lapangan.

Dari kunjungan singkat ini, saya membawa pulang satu kesadaran: pertanian organik bukan sekadar tren, melainkan pilihan yang menuntut konsistensi—mulai dari bahan yang digunakan, cara mengelola lahan, hingga keberanian menghadapi kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak.

Semoga semakin banyak generasi muda yang tertarik terjun dan mengembangkan pertanian yang produktif sekaligus ramah lingkungan, seperti yang telah dirintis Pak Rimbra di Ekowisata Sungkai Green Park.

Penulis: Selviani Agustin
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab UIN Imam Bonjol Padang