Agraris.id | 2026 — Ratusan pemuda desa dari berbagai provinsi di Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda ke 98 dengan menanam ratusan bibit mangrove dan membersihkan kawasan pesisir di Pantai Manjuto, Nagari Sungai Pinang, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian Simposium dan Ekspedisi Pemuda Desa Indonesia 2026 yang melibatkan Yayasan Pencerah Desa Indonesia, Pemuda Desa Indonesia, dan Duta Desa Indonesia. Kegiatan ini mempertemukan pembahasan tentang pembangunan desa dengan aksi pelestarian lingkungan di lapangan.

Di Pantai Manjuto, peserta menggelar upacara peringatan Sumpah Pemuda sebelum melaksanakan penanaman mangrove, aksi Jaga Laut, dan pembersihan kawasan pesisir.

Duta Desa Indonesia Terfavorit 2026, Diko Okta Siswandra, yang turut mengikuti kegiatan mengatakan penanaman mangrove menjadi bukti bahwa pemuda desa tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi juga mengambil peran sebagai penjaga lingkungan.

“Kami datang dari berbagai provinsi ke Pesisir Selatan bukan hanya untuk upacara, tapi untuk membuktikan Sumpah Pemuda ke-98 ini dengan aksi nyata. Sebagai pemuda desa, kami yang paling merasakan dampaknya ketika abrasi merusak pantai, ketika banjir merendam lahan petani, dan ketika laut tercemar. Maka hari ini kami memilih menanam, menjaga, dan merawat. Karena bagi kami, menjaga mangrove berarti menjaga masa depan desa, menjaga laut, dan menjaga Indonesia dari desa,” ujar Diko.

Founder Pencerah Desa Indonesia, Hidayatul Fikri, S.Sos., turut menekankan pentingnya keterlibatan pemuda desa dalam menghadapi persoalan lingkungan. Menurutnya, penanaman mangrove merupakan salah satu langkah nyata untuk menjaga kawasan pesisir.

“Hari ini kita merasakan degradasi krisis ekologis. Kita digemparkan dengan banjir Sumatera akhir tahun kemarin dan baru-baru ini flash flood. Ini tantangan besar bagi kita orang desa. Melalui penanaman mangrove ini kita berharap bisa menjaga lingkungan dan ekologis di pesisir,” katanya.

Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari David, pegiat lingkungan dari komunitas Anak Desa Sungai Pinang (ANDESPIN). Ia berharap keterlibatan peserta dari berbagai daerah dapat memperluas kepedulian pemuda terhadap lingkungan.

“Harapannya agar lebih banyak masyarakat, terutama pemuda, yang kenal dan peduli dengan lingkungan sekitar sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Mulai dari hal-hal paling kecil sekalipun seperti jangan buang sampah sembarangan, aktif bersuara lewat media, serta turun langsung aksi ke lapangan. Kegiatan kemarin tentu menjadi semangat baru bagi kita semua,” ujar David.

Ketua Pelaksana, Arif Al Hafiz mengajak para peserta menjadikan kepedulian terhadap laut sebagai komitmen yang terus dijalankan setelah kegiatan berakhir.

“Harapan kita bagaimana menjaga ekosistem kelautan yang ada, terkhusus di Pesisir Selatan, Sungai Pinang. Mari sama-sama sebagai pemuda untuk melestarikan dan menjaga laut yang ada di Indonesia,” kata Arif.

pencerah desa
Rangkaian aksi Simposium dan Ekspedisi Pemuda Desa Indonesia 2026.

Merumuskan rekomendasi pembangunan desa

Sebelum mengikuti ekspedisi di Pesisir Selatan, peserta menghadiri Simposium Nasional di Ruang Khusus 1 DPRD Provinsi Sumatera Barat. Forum tersebut mengangkat tema “Konsolidasi Pemuda Desa sebagai Penggerak Ekonomi, Inovasi dan Pembangunan Desa yang Berkelanjutan”.

Simposium menghadirkan Mahdiyal Ahsan selaku Ketua Umum Pokdarkamtibmas Bhayangkara Sumatera Barat, Mahdianur, S.E., S.H., M.M., selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sumatera Barat, serta Nanda Satria, S.IP., selaku Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat.

Pemateri lainnya adalah Hidayatul Fikri, S.Sos., selaku Founder Pencerah Desa Indonesia, Walikota Padang H. Fadly Amran, B.B.A., Ketua Pelaksana Arif Al Hafiz, serta Satria Persadano dari Pengurus Pusat Pemuda Desa Indonesia.

Fikri mengatakan rekomendasi yang dirumuskan dalam simposium akan disampaikan kepada pemerintah pusat agar aspirasi pemuda desa menjadi bagian dari arah pembangunan.

“Kita menginginkan hasil rekomendasi dari teman-teman berbagai provinsi ini bisa kita sampaikan kepada pemerintah, agar desa tidak hanya sekadar pelengkap administrasi. Desa harusnya menjadi gerbang terdepan, sesuai dengan Asta Cita Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk membangun dari bawah,” ujar Fikri.

Sementara itu, Arif menyampaikan bahwa hasil simposium akan dikonsolidasikan melalui ekspedisi lapangan sebelum diajukan kepada DPR RI.

Dalam ekspedisi tersebut, peserta dibagi menjadi tujuh kelompok riset untuk mengeksplorasi potensi desa wisata di Pesisir Selatan, termasuk kawasan yang disebut sebagai Nagari Sejuta Pesona dan Kawasan Mandeh.

Melalui rangkaian kegiatan ini, Yayasan Pencerah Desa Indonesia berkomitmen memperkuat gerakan kepemudaan berbasis desa. Simposium dan ekspedisi direncanakan menjadi agenda tahunan yang dilaksanakan secara bergilir di berbagai provinsi.[Mbee]