Agraris.id | 2026 — Tidak semua data penelitian datang dari kuesioner. Bagi Salsabilla Diva, sebagian yang paling ia kenang justru datang dari meja makan. Di lokus penelitiannya, ia diajak makan bersama oleh petani dan penyuluh, lalu diantar melihat langsung pertanaman padi di Kecamatan Balubur Limbangan, Kabupaten Garut.

“Saya merasa mendapatkan keluarga baru di Kecamatan Balubur Limbangan. Saya disambut dengan hangat oleh Bapak dan Ibu BPP serta para petani,” kenangnya.

Mahasiswa jurusan Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor itu menulis skripsi yang berjudul “Adopsi Inovasi Paenibacillus polymyxa oleh Petani untuk Mengendalikan Penyakit pada Tanaman Padi di Kecamatan Balubur Limbangan, Kabupaten Garut”. Penelitiannya ini berangkat dari penurunan produksi padi nasional akibat serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), yang mendorong pengenalan inovasi pengendalian hayati.

Bakteri bermanfaat, tetapi belum banyak dipakai

Paenibacillus polymyxa adalah bakteri yang dapat dimanfaatkan sebagai agen hayati untuk membantu mengendalikan penyakit tanaman. Salsa menjelaskan bahwa secara sederhana, kajian ini menilai bakteri tersebut sebagai bakteri bermanfaat yang bisa menjadi salah satu alternatif pengendalian penyakit pada tanaman padi.

Ketertarikan Salsa pada topik ini berawal dari minatnya terhadap agen hayati dan pengendalian penyakit tanaman, serta kesenangannya berinteraksi dan membantu petani mengatasi persoalan di lapangan. Fokus penelitiannya bukan pada kemampuan bakterinya, melainkan sejauh mana petani mau menggunakannya serta faktor-faktor yang memengaruhi keputusan mereka.

Penelitian ini memakai metode kuantitatif. Sampelnya sebanyak 74 petani padi dari 110 populasi. Data dikumpulkan lewat kuesioner, wawancara, dan studi literatur, lalu dianalisis dengan statistik deskriptif dan regresi linear berganda. Salsa memilih pendekatan ini karena tujuannya memerlukan pengukuran dan pengujian hubungan antarvariabel secara statistik, sesuatu yang menurutnya kurang tepat dijawab metode kualitatif.

Agen Hayati: Petani sudah kenal, tetapi belum konsisten

Hasi pengujian menunjukkan bahwa tingkat adopsi inovasi ini berada pada kategori sedang. Salsa menjelaskan meskipun petani sudah mengenal inovasi tersebut, mereka belum menerapkannya secara menyeluruh dan konsisten.

“Petani sudah mengenal inovasi ini, tetapi belum menerapkannya secara konsisten,” jelas Salsa.

Selain itu, survei mendapati bahwasanya sekitar 47% petani yang menerapkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), sehingga ketergantungan pada pestisida kimia masih tinggi.

“Tantangan utama bukan hanya mengenalkan teknologi, tetapi juga mendorong petani agar mau mengadopsinya,” ujar Salsa.

Secara simultan, faktor psikologis petani, karakteristik inovasi, dan faktor pendukung berpengaruh nyata terhadap tingkat adopsi. Secara parsial, karakteristik inovasi menjadi faktor paling dominan, diikuti faktor psikologis petani dan faktor pendukung.

salsa menafsirkannya sebagai pergeseran cara memandang persoalan. Menurutnya, penerimaan inovasi perlu dilihat dari bagaimana petani menilai manfaatnya, kesesuaiannya dengan kebutuhan usaha tani, dan kemudahan penerapannya.

“Persoalannya bukan semata-mata petani menolak perubahan, tetapi juga bagaimana inovasi diperkenalkan dan didampingi di lapangan,” ujarnya.

Dari strategi di atas kertas ke kelompok tani

Berdasarkan hasil analisis, Salsa merumuskan strategi peningkatan adopsi melalui penguatan karakteristik inovasi, peningkatan kesadaran petani, dan dukungan sarana prasarana. Caranya lewat penyuluhan, demonstrasi, diskusi, dan kerja sama antarlembaga.

Sebagian strategi itu sudah mulai dijalankan. Hingga kini, baru kelompok tani yang menunjukkan minat memanfaatkan hasil penelitian ini. Minat itu terwujud dalam kegiatan penyuluhan berupa ceramah, diskusi, dan demonstrasi cara perbanyakan serta pengaplikasian Paenibacillus polymyxa di kelompok KWT Sauyunan, Daya Giri, dan Padaringan 1.

Langkah paling mendesak berdasarkan penelusurannya adalah uji coba langsung di lahan petani, disertai penyuluhan dan pendampingan berkelanjutan.

“Petani dapat melihat cara penggunaan, manfaat, serta kesesuaian teknologi tersebut dengan kondisi usaha taninya,” katanya.

Hasil uji coba itu kemudian bisa menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyusun program penyuluhan dan memperluas penerapan teknologi.

Keterbatasan yang diakui

Hasil penelitian ini diakuinya memiliki keterbatasan karena baru mencakup satu kecamatan dengan jumlah responden terbatas, serta belum mengukur dampak jangka panjang terhadap produktivitas maupun pendapatan petani.

Berdasarkan pengalaman riset tersebut, jika bisa mengulang, ia berencana memperpanjang durasi penelitian dan menambah jumlah responden agar hasilnya dapat dibandingkan antarwilayah.

Tak berhenti di situ, keterbatasan dalam melihat proses pendampingan di lapangan juga mendorong Salsa untuk mengembangkan penelitian berikutnya ke arah kapasitas penyuluh pertanian sebagai broker inovasi. Melalui riset lanjutan itu, ia ingin melihat bagaimana penyuluh tidak sekadar menyampaikan informasi, melainkan benar-benar menjembatani petani dengan peneliti, pemerintah, dan berbagai lembaga penyedia teknologi.

Dokumentasi informan setelah selesai wisuda
(Salsabilla Diva, S.Tr.P)

Salsa berpesan kepada rekan-rekan mahasiswa yang saat ini sedang berjuang menyusun skripsi agar tetap semangat dan tidak takut pada kendala di paruh jalan.

“Pilihlah topik yang tidak hanya menarik secara akademis, tetapi juga memiliki manfaat nyata bagi masyarakat. Jangan ragu untuk turun langsung ke lapangan, mendengarkan pengalaman responden, dan terbuka terhadap temuan yang mungkin berbeda dari dugaan awal,” ujarnya.

“Penelitian yang baik bukan hanya tentang menyelesaikan skripsi, tetapi juga tentang menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat,” tutupnya.[Mbee]