Agraris.id | 2026 — Tanpa modal pribadi, Fajar Shajid menyiapkan presentasi PowerPoint, lalu mendatangi calon investor untuk menawarkan peluang usaha kopi gerobak.

Dari cara itulah Forego Coffee, yang ia buka pada 2025, tumbuh dari satu gerobak menjadi delapan gerobak. Kini, pada usia 27 tahun, lulusan Sistem Informasi itu menyiapkan Nana Coffee & Roastery sebagai langkah berikutnya: bergerak dari menjual minuman kopi ke pengolahan dan penyediaan produk kopi.

Kisahnya menarik bukan semata karena angka gerobaknya, melainkan karena caranya yang diawali dengan niat yang kuat, rencana yang didemonstrasikan, dan keberanian untuk memulainya.

Belajar Mandiri, Lalu Berani Memulai

Ketertarikan Fajar pada dunia bisnis tumbuh sejak 2015. Pada 2023, ia mulai mempelajari bisnis dan kopi lebih serius lewat sumber belajar mandiri, termasuk YouTube dan TikTok. Dua tahun kemudian, pada 2025, ia membuka Forego Coffee.

Latar pendidikannya bukan kopi. Fajar lulusan Sistem Informasi, sehingga seluruh pengetahuan tentang pengolahan biji dan penyangraian (roasting) ia dalami sendiri.

Modal Nekat kepada Calon Investor

Bagian paling mencolok dari perjalanan Forego Coffee adalah cara Fajar mendapatkan pendanaan. Ia menegaskan, usaha gerobaknya dimulai tanpa mengeluarkan modal pribadi.

“Kopi gerobak kita mulai tanpa modal sepersen pun, modal nekat menawari ke orang yang mau berinvestasi,” ujar Fajar.

Tanpa modal pribadi bukan berarti tanpa modal. Kebutuhan investasi untuk satu gerobak sekitar Rp20 juta, yang dipakai membeli perlengkapan dan memulai usaha dengan fasilitas seadanya, dicarikan Fajar dari calon investor.

Bagi Fajar, keterbatasan modal bukan alasan berhenti, melainkan alasan untuk mencari peluang dan menyusun rencana yang cukup meyakinkan bagi calon investor. Niat menjadi titik awal, sedangkan perencanaan dan keberanian bertindak yang membuat gagasan berjalan.

Dari Gerobak ke Roastery

Setelah Forego Coffee, Fajar kini telah mengoperasikan secara penuh Nana Coffee & Roastery yang hadir sebagai kedai kopi representatif di lokasi tersebut. Istilah “Nana” diambil dari nama anaknya.

Berbeda dari Forego Coffee yang berfokus pada penjualan minuman lewat gerobak, Nana dirancang memperluas layanan hingga pengolahan: coffee shop, jasa roasting, penjualan biji kopi dan kopi bubuk, serta jasa penggilingan kopi.

Untuk mendukung operasionalnya, mesin roasting disiapkan seharga sekitar Rp26 juta. Total peralatan ruang sangrai, termasuk mesin itu, mencapai sekitar Rp55 juta. Mesin tersebut berkapasitas tiga kilogram biji kopi hijau (green bean) per proses, dengan penyangraian yang menurut Fajar dapat dilakukan hingga 15 kali sehari.

Proses belajar tentang pengolahan itu pula yang membuka matanya pada peluang yang lebih luas, tidak hanya menjual minuman, tetapi juga mengolah dan menyediakan produk kopi.

Fajar Shajid: Keberanian Memulai, Lalu Langkah Nyata

Perjalanan Fajar dari satu gerobak hingga delapan gerobak Forego Coffee memperlihatkan bahwa membangun usaha membutuhkan keberanian mencari peluang, bukan menunggu kondisi ideal.

Bagi anak muda, kisah ini menunjukkan bahwa memulai bisnis bisa dilakukan bertahap. Selain mempelajari bidang yang diminati, calon pengusaha perlu menyusun rencana, memahami kebutuhan pendanaan, dan menimbang risiko sebelum mengambil keputusan.

Penulis: Fatimah Azani | Editor: Khairul Fadli Rambe