Agraris.id | 2026 — Universitas Andalas (UNAND) menanam 3.800 bibit pohon di sembilan titik yang tersebar di lima kabupaten/kota di Sumatra Barat, Jumat (8/8/2026), sebagai bagian dari upaya restorasi lingkungan di kawasan yang porak-poranda diterjang banjir bandang pada akhir November hingga Desember 2025 yang lalu.

Penanaman ini sekaligus menjadi penanda peringatan Hari Hutan Nasional dan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN). Salah satu lokasi difokuskan di SMP Negeri 44 Padang, Kelurahan Koto Tuo, Kecamatan Pauh—salah satu wilayah yang ikut terdampak banjir.

Ketua Panitia Kegiatan, Prof. Dr. Ir. Aswaldi Anwar, M.S., menyebut bibit yang disalurkan merupakan hasil kerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatra Barat, terdiri atas kombinasi tanaman keras dan tanaman buah seperti durian dan manggis.

Total bibit yang kami distribusikan sebanyak 3.800. Sebagian besar dari Dinas Kehutanan, sisanya tanaman buah untuk mendukung ketahanan ekonomi masyarakat,” kata Prof. Aswaldi.

IKLAN AGRARIS

Kombinasi ini bukan kebetulan. Tanaman keras diarahkan untuk memperkuat fungsi konservasi tanah dan air di lereng-lereng rawan longsor pascabanjir, sementara tanaman buah disiapkan sebagai sumber pendapatan jangka menengah bagi warga terdampak.

Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Dr. Ferdinal Asmin, S.TP, M.P., mengapresiasi langkah UNAND dan menilai keterlibatan kampus krusial dalam pemulihan pascabencana.

UNAND sudah banyak berkontribusi dalam pemulihan alam. Kami akan terus mendukung kegiatan-kegiatan positif seperti ini,” ujarnya.

Rektor UNAND, Efa Yonnedi, Ph.D., menyebut di sela sambutannya bahwasanya penanaman ini sebagai langkah mitigasi bencana yang konkret. Ia mendorong agar program pengabdian masyarakat ke depan diarahkan pada pengembangan hutan sosial berbasis komoditas ekonomi, seperti kopi.

Kita melihat peluang lahirnya Program Studi Manajemen Kehutanan dengan kekhasan hutan sosial. Ke depan, kegiatan pengabdian bisa diarahkan pada komoditas seperti kopi agar memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tegasnya.

Bagi mahasiswa yang terlibat, kegiatan ini punya makna yang lebih personal. Diko Okta Siswandra, dari Tim Panitia Pengabdian UNAND, menyebut aksi tanam ini sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada masyarakat terdampak.

Banjir telah merenggut banyak hal. Melalui pohon-pohon ini, kami ingin menanam kembali harapan agar anak-anak di daerah terdampak bisa berteduh dan hidup lebih aman 10-20 tahun mendatang,” ujarnya.

Rektor UNAND juga menyampaikan pesan penting di akhir sambutannya. Ia menitipkan perawatan pohon kepada pihak sekolah dan masyarakat, sembari menekankan bahwa keberhasilan restorasi tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, melainkan dari keberlanjutan perawatannya.

Menanam adalah langkah awal. Yang paling penting adalah bagaimana kita merawat hingga pohon ini tumbuh dan bermanfaat bagi lingkungan,” tuturnya.

Rektor UNAND bersama tim pengabdian menanam bibit pohon di SMP Negeri 44 Padang, Koto Tuo, Pauh—salah satu titik lokasi utama restorasi.

Lewat aksi ini, UNAND membuktikan bahwa komitmennya bukan sekadar seremonial, melainkan langkah nyata dalam menjaga lingkungan, mengantisipasi bencana, dan menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi demi kemaslahatan masyarakat.[Mbee]