Agraris.id | 2026 — Aroma kopi yang baru diseduh punya cara sendiri untuk mengganggu pikiran orang yang penasaran. Bagi Andika Ade Saputra, rasa pahit di lidah itu bukan sekadar sensasi yang lewat begitu saja—ia menjadi pertanyaan yang menuntunnya menyusuri kebun-kebun kopi di Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, selama lebih dari setahun terakhir masa kuliahnya.

Awalnya saya penasaran, kenapa kopi itu pahit? Dari situ saya mulai cari tahu, ternyata rasa itu dipengaruhi tanah dan lingkungan tempat ia tumbuh. Kopi Solok punya rasa khas, ada sentuhan lemon yang tidak saya temukan di daerah lain, dan itu yang ingin saya pecahkan,” ujar Ade, sapaan akrabnya.

Ade adalah mahasiswa Agroteknologi Universitas Andalas angkatan 2021. Semester sembilan ini menjadi penutup perjalanan akademiknya, tepat menjelang Wisuda Periode III Tahun 2026 pada dua minggu lalu. Namun jalan menuju toga itu ia tempuh lewat sesuatu yang paling dekat dengan kesehariannya: secangkir kopi.

Saya sempat jadi barista waktu kuliah. Dari situ juga saya suka suasana nongkrong sambil ngopi, dan itu yang bikin saya makin tertarik mendalami dunia kopi lewat penelitian,” katanya.

IKLAN AGRARIS

Kecintaan pada rasa itu ia pertemukan dengan latar belakang keilmuannya. Solok, katanya, punya keragaman kopi arabika yang belum banyak terpetakan secara ilmiah—celah itulah yang kemudian ia isi lewat skripsi yang berjudul “Eksplorasi dan Karakterisasi Morfologis Kopi Arabika (Coffea arabica L.) di Kecamatan Gunung Talang Kabupaten Solok“.

Judul penelitian itu disetujui pada 2024, dan perencanaannya sudah dimulai sejak tahun yang sama. Ade memilih pendekatan survei, dengan dua tahap kerja: eksplorasi dan karakterisasi. Untuk mendata sebaran tanaman, ia memakai metode snowball sampling—menelusuri satu kebun ke kebun berikutnya berdasarkan informasi dari petani setempat. Sementara untuk memilih sampel yang dikarakterisasi secara morfologis, ia menerapkan purposive sampling.

Metodenya sederhana, saya turun langsung ke kebun, amati, dan survei. Karakterisasi itu artinya menentukan ciri tanaman secara fisik,” pungkasnya.

Total ada sekitar 12 kebun yang ia datangi satu demi satu. Penelitian berlangsung dari Desember 2025 hingga Januari 2026, dengan sidang proposal (sempro) yang baru terlaksana Juli 2025 — hampir setahun setelah judul disetujui.

“Rentang waktu dari acc judul sampai sempro sekitar delapan atau sembilan bulan. Tapi kalau diakumulasikan hari kerja efektifnya, sebenarnya bisa terkejar dalam waktu seminggu. Keterlambatan itu karena saya belum fokus ke penelitian itu dan juga sedang ada kerjaan” ungkapnya.

Kerja keras menyusuri kebun-kebun itu berbuah data. Dari tahap eksplorasi, Ade menemukan keberadaan 410 aksesi tanaman kopi arabika yang tersebar di 12 lokasi penelitian. Dari jumlah itu, sebanyak 41 aksesi yang memenuhi kriteria fase reproduktif dilanjutkan ke tahap karakterisasi morfologis secara lebih mendalam.

Hasilnya, penelitian ini menemukan enam karakter dengan nilai variabilitas luas—di antaranya tinggi tanaman, jumlah bunga per aksil, dan berat kering biji. Analisis kemiripan yang dilakukan secara kualitatif kemudian mengelompokkan aksesi-aksesi itu berdasarkan tingkat kemiripan 74 persen, menghasilkan dua kelompok besar: kelompok I dengan tiga aksesi, dan kelompok II dengan 38 aksesi.

Pengelompokan itu terjadi karena perbedaan pada sejumlah ciri fisik: bentuk daun, warna helaian daun muda, bentuk stipula, bentuk tanaman, bentuk buah, warna buah matang, warna biji, hingga bentuk biji.

Golsnya adalah plasma nutfah—pemilihan tanaman untuk capaian bibit yang bagus, dan diupayakan buah yang banyak. Ujung-ujungnya bisa mengarah ke kawin silang,” jelas Ade tentang tujuan besar di balik data yang ia kumpulkan.

Meski begitu, Ade tak menutup-nutupi batas dari penelitiannya sendiri. Ia mengakui, apa yang ia kerjakan baru berhenti di tahap pemetaan karakter—belum menyentuh persoalan yang lebih hilir, seperti pengolahan hasil atau nilai tambah produksi.

Kelemahan penelitian saya ada di keberlanjutannya. Penelitian ini masih tahap eksplorasi, sementara idealnya harus dilanjutkan sampai ke tahap hilirisasi produksi,” ujarnya.

Pengakuan itu justru memperlihatkan bagaimana Ade memandang skripsinya bukan sebagai titik akhir, melainkan satu titik dalam rangkaian riset plasma nutfah kopi yang jauh lebih panjang—riset yang ia harap dilanjutkan peneliti lain setelah ia menyandang gelar sarjana.

Dokumentasi informan setelah selesai sidang akhir “kompre” (Andika Ade Saputra, S.P)

Dari keresahan sederhana soal rasa pahit kopi, Ade menempuh jalan panjang: mendatangi belasan kebun, mendata ratusan aksesi, dan mengurai puluhan karakter morfologis—sebelum akhirnya berdiri di barisan wisudawan Universitas Andalas pada Periode III Tahun 2026.

Baginya, kopi bukan cuma minuman yang menemani begadang mengerjakan skripsi. Ia juga jadi jalan pulang menuju jawaban dari rasa penasaran yang menuntunnya sejak masih menyeduh kopi di balik meja barista—sampai akhirnya menyeduh data di balik meja penelitian.[Mbee]