Agraris.id | 2026 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler II Universitas Andalas (Unand) mengembangkan demplot pemulihan tanah masam melalui optimalisasi pH tanah dan pemanfaatan bahan organik di Nagari Pematang Panjang, Kec. Sijunjung, Kab. Sijunjung, Prov. Sumatera Barat.

Program kerja utama tersebut dilaksanakan selama periode KKN Reguler II Unand, yakni pada 6 Juli hingga 18 Agustus 2026. Mengusung tema pertanian, peternakan, dan kebudayaan, seluruh mahasiswa KKN turut terlibat dalam kegiatan yang diarahkan untuk memperkuat praktik pertanian berkelanjutan berbasis sumber daya lokal.

Lokasi demplot merupakan lahan lokasi pembibitan tanaman nagari dalam mendukung berbagai program di bidang pertanian, Nagari Pematang Panjang merupakan salah satu Kampung Berseri Astra yang mengembangkan pemberdayaan masyarakat pada bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Kegiatan ini berangkat dari persoalan tanah masam yang dapat membatasi ketersediaan unsur hara dan menghambat pertumbuhan tanaman. Hasil pengukuran awal menggunakan alat pH digital menunjukkan pH tanah pada demplot berada pada angka 4,7. Kondisi tersebut menunjukkan tanah tergolong masam sehingga diperlukan pengelolaan untuk menciptakan lingkungan tumbuh yang lebih baik bagi tanaman budidaya. Pada kegiatan ini, mahasiswa menggunakan cabai rawit sebagai komoditas uji untuk melihat respons tanaman terhadap perbaikan kondisi tanah.

IKLAN AGRARIS

Pengecekan pH Tanah sebelum dan sesudah melakukan kombinasi pupuk kandang, dolomit, dan biochar.

Mahasiswa kemudian menerapkan beberapa paket inovasi dengan mencampurkan bahan pembenah tanah ke dalam tanah sebelum penanaman cabai rawit. Bahan yang diuji meliputi pupuk kandang, dolomit, serta biochar dari sekam padi dan batok kelapa, baik secara tunggal maupun dalam kombinasi.

Dari sejumlah paket inovasi yang dicoba, kombinasi pupuk kandang, dolomit, dan biochar menunjukkan respons terbaik dalam perbaikan kondisi tanah pada periode pengamatan awal. Setelah empat minggu pengamatan, pH tanah pada demplot meningkat dari 4,7 menjadi 6,1. Kisaran tersebut lebih mendukung ketersediaan unsur hara bagi pertumbuhan cabai rawit dibandingkan kondisi awal tanah yang masam.

Selain perubahan pH, mahasiswa mengamati tanah menjadi lebih gembur dan lebih mudah diolah. Pemberian pupuk kandang dan biochar juga diharapkan dapat meningkatkan kandungan bahan organik tanah, membantu tanah menyimpan air, serta memperbaiki kemampuan tanah menahan unsur hara.

Pendekatan yang kami lakukan tidak hanya berfokus pada peningkatan pH tanah, tetapi juga pada upaya memperbaiki kondisi tanah secara bertahap dengan bahan yang relatif mudah diperoleh masyarakat,” ujar M. Khalis Ahnaf, mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Unand selaku PIC program.

Menurut Khalis, penggunaan dolomit membantu menekan kemasaman tanah, sedangkan pupuk kandang dan biochar dimanfaatkan untuk menambah bahan organik serta memperbaiki kondisi fisik tanah. Melalui demplot tersebut, mahasiswa ingin menunjukkan alternatif pengelolaan lahan yang dapat dipelajari dan disesuaikan oleh petani setempat.

Dosen Pembimbing Lapangan KKN Unand, Winda Purnama Sari, SP., MP., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk transfer dan penerapan ilmu pertanian dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

Kegiatan KKN ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami teori di kelas, tetapi juga mampu menerjemahkan pembelajaran tersebut menjadi solusi praktis di lapangan yang bisa diterapkan masyarakat. Optimalisasi pH dengan dolomit dan pemanfaatan bahan organik lokal menjadi langkah konkret untuk mendukung pemulihan produktivitas tanah dan tanaman secara berkelanjutan,” ujar Dosen Pembimbing KKN, ibu Winda.

Pelaksanaan kegiatan turut didampingi oleh Kasi Pelayanan Nagari Pematang Panjang, Andrean Febrizal, sekaligus salah satu penggerak program Kampung Berseri Astra di nagari. Pemerintah nagari mendorong agar lahan percontohan di belakang Kantor Wali Nagari tersebut terus dimanfaatkan sebagai lokasi pembelajaran bagi petani dan masyarakat, khususnya dalam pembibitan tanaman serta pengelolaan tanah pertanian berkelanjutan.

Dalam periode KKN ini, mahasiswa turut membangun rumah bibit di sekitar area demplot serta melaksanakan pengadaan 1.000 bibit tanaman produktif berupa jengkol dan kelengkeng. Bibit tersebut disiapkan untuk mendukung penghijauan, pengembangan tanaman produktif, dan mendukung program Nagari penanaman satu pohon pada setiap kelahiran. Program ini menjadi bagian dari upaya masyarakat dan pemerintah nagari dalam membangun kepedulian lingkungan sejak dini, meningkatkan tutupan vegetasi, serta menjaga keberlanjutan sumber daya alam di wilayah nagari.

Melalui demplot cabai rawit, pembangunan rumah bibit, pengadaan 1.000 bibit tanaman produktif, serta pemanfaatan bahan organik lokal, mahasiswa KKN Unand berharap masyarakat memiliki contoh praktik yang dapat dikembangkan secara mandiri. Ke depan, demplot tersebut diharapkan menjadi ruang belajar bersama bagi masyarakat dalam mengelola tanah masam, mengurangi ketergantungan pada input eksternal, dan meningkatkan keberlanjutan usaha tani di Nagari Pematang Panjang.[Mbee]