Agraris.id | 2026 — Universitas Andalas (Unand) melalui Program Kemitraan Masyarakat Daerah Binaan (PKM-DB) mendampingi tiga kelompok masyarakat di Nagari Balingka, Kabupaten Agam, pada Agustus–Desember 2026, untuk mengembangkan kawasan tersebut menjadi agrowisata terpadu. Program ini mencakup penanganan pascapanen strawberry, penguatan UMKM Kue Sangko, dan penerapan pertanian ramah lingkungan berbasis titonia.

Tiga kelompok yang didampingi adalah Kelompok Usaha Hishan Strawberry di Jorong Pahambatan yang beranggotakan 15 orang, UMKM Kue Putu Koto Hilalang yang memproduksi Kue Sangko, serta Kelompok Tani Lurah Gadiang. Ketiga kelompok menghadapi persoalan berbeda yang berkaitan dengan pengembangan pertanian, usaha pangan lokal, dan agrowisata di Nagari Balingka, yang berstatus Nagari Binaan Universitas Andalas berdasarkan Keputusan Rektor Universitas Andalas.

Tim pelaksana program dipimpin oleh Dr. Ir. Riesi Sriagtula, S.Pt., M.P., IPU., beranggotakan Winda Purnama Sari, Delfia Tanjung Sari, Zulqaiyyim, Gusri Yanti, dan Afriani Sandra.

Dr. Riesi mengatakan bahwa program ini disusun berdasarkan permasalahan yang ditemukan melalui observasi, diskusi, dan kesepakatan dengan mitra.

IKLAN AGRARIS

“Pendampingan ini diarahkan pada persoalan yang dihadapi mitra, yaitu penanganan stroberi, penguatan produk pangan lokal, dan pemanfaatan titonia. Hasil kegiatan akan dievaluasi berdasarkan penerapan teknologi dan keterlibatan kelompok,” tutur Dr. Riesi.

Pada kelompok Hishan Strawberry, produksi strawberry yang meningkat kerap tidak segera terserap pasar sehingga berisiko rusak, sementara pengolahan pascapanen dan pemasaran produk olahan masih terbatas. Tim akan memperkenalkan budidaya stroberi berkelanjutan serta penggunaan cabinet dryer, freezer, dan vacuum sealer untuk diversifikasi produk berupa stroberi kering, bubuk stroberi, selai, sirup, dan frozen strawberry, disertai penyusunan SOP penanganan pascapanen.

Kondisi buah stroberi pascapanen di Jorong Pahambatan.

Pada UMKM Kue Putu Koto Hilalang, produk Kue Sangko yang telah diwariskan selama tiga generasi itu masih menggunakan kemasan sederhana tanpa identitas merek dan label, dengan penjualan terbatas pada pasar tradisional. Pendampingan akan mencakup redesain kemasan, pembuatan logo dan label, penggunaan bahan kemasan yang sesuai untuk pangan, serta pelatihan pembukuan sederhana dan pemasaran digital. Tim menyatakan program ini tidak otomatis menjamin produk masuk ke pasar modern atau pusat oleh-oleh, melainkan menyiapkan UMKM untuk memperluas saluran pemasaran.

Kue Putu Sangko, pangan tradisional Nagari Balingka.

Pada Kelompok Tani Lurah Gadiang, mahalnya harga pupuk kimia dan serangan organisme pengganggu tanaman pada komoditas hortikultura seperti cabai mendorong tim memanfaatkan tanaman titonia (Tithonia diversifolia) sebagai bahan biopestisida nabati dan pupuk hijau. Kegiatan meliputi identifikasi hama, pelatihan pengendalian hama terpadu, pembuatan biopestisida, pengolahan biomassa titonia menjadi pupuk hijau, dan uji coba pada lahan demonstrasi. Tim menegaskan penerapan ini tidak dimaksudkan menghapus seluruh penggunaan pestisida dan pupuk sintetis, melainkan didampingi dan dievaluasi berdasarkan kondisi di lapangan.

Lahan pertanaman cabai milik Kelompok Tani Lurah Gadiang.

Pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), Perizinan Industri Rumah Tangga (PIRT), dan sertifikat halal bagi produk mitra direncanakan sebagai bagian dari pendampingan lanjutan, sesuai kelengkapan dokumen dan tahapan verifikasi yang berlaku.

Perwakilan Kelompok Usaha Hishan Strawberry menyampaikan dukungan penuh kepada tim pelaksana Program Kemitraan Masyarakat Daerah Binaan (PKM-DB) Universitas Andalas, karena dinilai sangat membantu dan membawa perubahan positif bagi kelompok mereka

”Kami berharap pendampingan ini membantu kelompok dalam budidaya dan menangani stroberi yang tidak langsung terjual. Produk olahan dan pengemasan memang membutuhkan pengetahuan, peralatan, serta pendampingan agar dapat dilakukan secara lebih teratur,” ucap perwakilan Kelompok Usaha Hishan Strawberry.

Melalui keterlibatan dosen, mahasiswa, pemerintah nagari, kelompok usaha, dan kelompok tani, program ini diharapkan menghasilkan model pemberdayaan yang berkelanjutan setelah kegiatan berakhir, melalui pembentukan pengelola bersama, penerapan SOP, penguatan legalitas, jejaring pemasaran, dan integrasi produk ke paket wisata petik strawberry. Sehingga, diharapkan Nagari Balingka tidak hanya dikenal sebagai lokasi wisata petik strawberry saja, tetapi juga sebagai kawasan yang mampu mengolah hasil pertanian dan mengembangkan produk pangan lokal secara berkelanjutan.[Mbee]