Agraris.id | 2026 — Bagi sebagian anak muda, bertani sering dianggap pilihan terakhir, bukan jalan hidup yang disengaja. Namun bagi Aldi Yulianda, mahasiswa Universitas Andalas jurusan Penyuluhan Pertanian, justru di usia muda itulah ruang belajar paling berharga terbuka—tempat kegagalan menjadi pelajaran, dan keberhasilan tak pernah cukup untuk berhenti mencoba.

Gagasan itu tecermin dari perjalanan usaha pembibitan yang ia rintis sendiri, Pembibitan Muda Karya, yang telah berjalan kurang lebih dua tahun di Kota Padang, Sumatera Barat.

Usaha ini bergerak di bidang pembibitan tanaman pertanian, penyediaan media tanam seperti tanah, sekam, dan polybag, serta edukasi smart farming untuk pekarangan rumah. Aldi menjalankannya secara mandiri, tanpa sokongan dana maupun kelompok tani, berbekal latar belakang keilmuan dan hobinya di bidang pertanian.

Bagi abang yang berwirausaha sendiri, mau mengembangkan di bidang pertanian karena basic abang di pertanian, tapi sokongan dari luar itu belum ada. Jadi modal nekat lah berarti, dengan megang prinsip karena mau membangkitkan pertanian itu ya pakai tangan lo sendiri,” ujar Aldi.

IKLAN AGRARIS

Bagi anak muda yang ingin terjun ke pertanian, langkah pertama yang paling menentukan bukanlah modal besar, melainkan keberanian memulai di tengah ketidakpastian pasar.

Menurut penuturan Aldi, keputusannya membuka usaha pembibitan berangkat dari melihat peluang yang belum banyak digarap kompetitor di Kota Padang, meski hal itu berarti ia harus menanggung sendiri risiko di tahun-tahun awal.

Awal mulanya abang buka kayak gini karena abang basic-nya pertanian, abang hobi. Terus selanjutnya nekatnya mengambil risiko kayak gini karena di sini belum ada, jadi peluangnya besar, kompetitor kita gak ada,” katanya.

Namun jalan itu tidak mulus sejak awal. Justru di titik itulah pelajaran sesungguhnya dimulai—bahwa kegagalan di masa muda bukan akhir, melainkan bagian dari proses menemukan cara yang tepat untuk bertahan.

Aldi mengakui, di satu tahun pertama, usahanya sempat kesulitan mencari pelanggan karena masyarakat Kota Padang belum familiar dengan konsep usaha yang ia tawarkan.

Walaupun risikonya di satu tahun pertama susah cari pelanggan karena orang belum tahu di Kota Padang ada yang kayak gini,” ujarnya.

Dari titik itu, ia tidak berhenti, melainkan terus mencari cara agar usahanya dikenal dan relevan bagi masyarakat sekitar—sebuah proses belajar yang menurutnya tidak pernah benar-benar selesai meski usaha sudah mulai berjalan.

Untuk memperluas jangkauan, Aldi mengembangkan sistem pemasaran bertingkat: penjualan langsung di lokasi, jaringan reseller termasuk di area Car Free Day (CFD), hingga merambah pasar di luar Kota Padang. Ia juga aktif mengedukasi masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga, untuk mulai menanam minimal lima polybag di pekarangan rumah sebagai bagian dari konsep smart farming perkotaan.

Perjalanan Pembibitan Muda Karya menunjukkan bahwa bertani di usia muda bukan sekadar soal usaha yang menghasilkan, melainkan proses belajar berkelanjutan—di mana kegagalan awal menjadi bekal, dan setiap pencapaian kecil justru mendorong untuk terus mengembangkan diri, bukan berhenti puas.[Mbee]