Kabupaten Solok, 2026 — Kebuntuan ekonomi yang mengakar di daerah-daerah produktif acap kali menyerupai kabut tebal yang kerap menyelimutinya, ia tampak pekat dan menghalangi pandangan, namun sebenarnya bisa ditembus oleh ketekunan yang jeli melihat celah. Di Jorong Kapalo Danau Diateh, stagnasi kesejahteraan yang bertahun-tahun menghantui petani Strawberry mulai menemukan jalan keluarnya, bukan melalui keajaiban melainkan lewat keberanian untuk memetakan kembali potensi lokal yang selama ini terabaikan di tengah hiruk-pikuk wisatawan alam.

Di tengah stagnasi tersebut, muncul sosok Padri Irwandi, seorang pemuda yang menolak menatap kebuntuan itu dengan kacamata sinis yang melumpuhkan. Alih-alih sekadar mengutuk keadaan atau terjebak dalam keluhan komunal, mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang ini memilih berdiri di garis depan dengan nalar kritis—sebuah cara pandang yang tidak hanya melihat masalah sebagai tembok, tetapi sebagai teka-teki yang menuntut solusi konkret.

Selama dua tahun terakhir, ia terjun langsung mengelola perkebunan strawberry, mencoba memutus rantai distribusi konvensional yang kerap mencekik petani kecil. Baginya, stagnasi ekonomi di negeri dolar ini bukanlah takdir, melainkan sebuah kegagalan struktural dalam rantai distribusi yang harus dibedah dan disusun ulang melalui aksi nyata.

Daerah kita ini daerah wisata, alamnya indah, dan strawberry sudah lama ada di sini. Tapi masalahnya, selama ini hasilnya tidak signifikan membantu ekonomi masyarakat karena distribusinya hanya lewat grosir biasa yang harganya fluktuatif,” ungkap Padri dalam sesi wawancara.

IKLAN AGRARIS

Titik balik perjuangan Padri muncul seiring dengan hadirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah. Melihat peluang besar, ia bergerak cepat menjadikan strawberry sebagai salah satu pasokan utama dalam rantai pasok nutrisi tersebut. Melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), distribusi strawberry dari kebun-kebun di Jorong Kapalo Danau Diateh kini memiliki muara yang jelas dan masif. Tak main-main, permintaan dari satu SPPG saja bisa mencapai angka yang fantastis.

Program MBG ini menjadi potensi distribusi yang luar biasa bagi kami. Saat ini, permintaan untuk satu SPPG saja mencapai 216 kilogram. Ini sangat membantu karena permintaannya stabil dan volumenya besar,” jelas Padri dengan nada optimis.

Kini, perannya telah bertransformasi; bukan hanya sebagai petani yang bergelut dengan tanah, tapi juga sebagai tokoh promotor yang memutar roda distribusi hasil panen di Kabupaten Solok.

Namun, langkah mahasiswa aktivis ini tidak berhenti di meja makan. Padri tengah menyiapkan inovasi baru untuk mengawinkan sektor pertanian dengan pariwisata yang sudah ada. Ia berencana memanfaatkan lingkungan penginapan dan homestay di sekitar danau untuk menciptakan paket wisata tour kebun strawberry.

Nantinya, para pengunjung tidak hanya sekadar menginap dan melihat pemandangan, tetapi bisa merasakan langsung pengalaman memetik buah di kebun,” tuturnya.

Inovasi ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi para petani dan pemilik penginapan setempat sekaligus menjadi bukti nyata bahwa di tangan generasi muda yang kritis, kebuntuan struktural bukanlah akhir cerita, melainkan titik mula lahirnya kedaulatan ekonomi yang berakar kuat dari tanah kelahiran sendiri. [Mbee]