Agraris.id, 2026 — Sektor pertanian global, termasuk di Indonesia, saat ini tengah menghadapi tantangan serius akibat dominasi sistem monokultur yang menguras unsur hara tanah dan ketergantungan berlebih pada input kimia. Pola tanam satu jenis yang masif tidak hanya memicu degradasi kualitas lahan dan kerentanan terhadap serangan hama, tetapi juga memperburuk dampak perubahan iklim yang mengakibatkan ketidakpastian masa panen bagi para petani.

Di tengah ancaman krisis pangan dan hilangnya biodiversitas, kebutuhan akan model pertanian yang lebih resilien dan adaptif menjadi kian mendesak untuk menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus ekonomi pedesaan. Sistem agroforestri, atau yang secara tradisional dikenal di ranah Minangkabau sebagai konsep parak, yang bukan sekadar metode bercocok tanam biasa.

Konsep parak adalah warisan adiluhung nenek moyang yang secara cerdas memadukan tanaman hutan berkayu dengan tanaman pertanian di satu hamparan lahan. Secara eksplisit, agroforestri menciptakan ekosistem berlapis (multistrata) yang meniru struktur hutan alam; di mana pohon tinggi seperti durian atau surian berfungsi sebagai kanopi pelindung, sementara di bawahnya tumbuh tanaman komoditas seperti kopi, kulit manis, hingga tanaman rempah dan obat-obatan. Praktik ini membuktikan bahwa sejak dahulu, leluhur kita telah memahami cara menjaga keseimbangan alam tanpa harus mengorbankan produktivitas ekonomi.

Di era pertanian modern saat ini, teknik agroforestri menawarkan solusi konkret terhadap tantangan perubahan iklim dan degradasi lahan. Dengan mengadopsi sistem ini, sektor pertanian tidak lagi bergantung pada satu jenis komoditas (monokultur) yang rentan terhadap hama dan fluktuasi harga pasar.

IKLAN AGRARIS

Melalui diversifikasi tanaman, petani dapat memiliki sumber pendapatan yang berkelanjutan—mulai dari panen harian sayur-mayur, panen musiman buah-buahan, hingga tabungan jangka panjang berupa kayu pertukangan. Selain itu, integrasi pepohonan dalam lahan pertanian terbukti secara ilmiah mampu menjaga kelembapan tanah, mencegah erosi di lahan miring, dan meningkatkan penyerapan karbon, yang menjadikannya pilar utama dalam gerakan pertanian ramah lingkungan.

Implementasi agroforestri masa kini juga dapat dikolaborasikan dengan teknologi digital dan riset akademis untuk mengoptimalkan pemilihan jenis tanaman yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme). Sebagai contoh, pemanfaatan tanaman sela yang memiliki nilai ekonomi tinggi namun membutuhkan naungan dapat meningkatkan efisiensi lahan secara signifikan. Dengan menjadikannya sebagai referensi dalam penyusunan strategi pertanian daerah, kita tidak hanya melestarikan budaya lokal yang teruji waktu, tetapi juga membangun kedaulatan pangan yang lebih tangguh.[Mbee]

Refernsi dan Bacaan Lanjutan:

https://www.instagram.com/p/DWndXmDkUTp/?igsh=MW50MmlnY3IxY29ucw==

https://brin.go.id/news/123335/smart-agroforestry-solusi-produktivitas-dan-ketahanan-pangan-masa-depan