Agraris.id | 2026 — Pengelola Jambak Sea Turtle Camp, Pati Hariyose di Pantai Pasir Jambak, Kota Padang, berencana mengembangkan budidaya kepiting bakau (Scylla spp.) di kawasan mangrove mereka sebagai sumber ekonomi baru bagi warga sekitar. Rencana itu disampaikan saat Agraris Indonesia melakukan kunjungan lapangan dengan kegiatan Company Field Mission.

“Targetnya kepiting bakau. Kami sudah rencanakan untuk pemberdayaan masyarakat lewat pemanfaatan hutan bakau. Ada percontohan semi kolam alami dan apartemen penggemukan,” ujar Yose.

Ia menegaskan, rencana ini bukan sekadar budidaya biasa. Baginya, budidaya kepiting bakau menjadi cara menghubungkan kelestarian mangrove dengan penghidupan warga.

“Ini pemanfaatan hutan bakau untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat. Potensi lebih besar dari masalah,” katanya.

IKLAN AGRARIS

Dua Model Percontohan

Semi kolam alami. Kepiting dipelihara dengan memanfaatkan ruang di sekitar vegetasi mangrove, sementara lingkungan sekitarnya dipertahankan sebagai habitat alami. Pengelolaan kondisi air menyesuaikan karakter kawasan. Pendekatan ini dikenal sebagai silvofishery atau wanamina, yaitu sistem yang memadukan pemanfaatan mangrove dengan kegiatan perikanan.

Sistem apartemen. Setiap kepiting ditempatkan dalam satu wadah pemeliharaan sehingga tidak bercampur dengan kepiting lain. Sistem ini dirancang karena kepiting bakau cenderung kanibal, terutama bila ukurannya berbeda dalam satu ruang. Dengan pemisahan individu, kebersihan air, pemberian pakan, dan pertumbuhan tiap kepiting lebih mudah dipantau.

Kedua model direncanakan saling melengkapi pada tahap percontohan: semi kolam alami memanfaatkan potensi ekosistem mangrove, sedangkan sistem apartemen mendukung penggemukan yang lebih terkontrol.

Perencanaan budidaya kepiting bakau sebagai peluang ekonomi di lahan mangrove.

Kepiting Soka dan Penggemukan Ukuran Sedang

Selain dua model itu, pengelola menyiapkan dua perlakuan yang akan diujicobakan. Pertama, budidaya kepiting soka, yakni kepiting yang dipanen setelah berganti kulit (molting) saat cangkangnya masih lunak sehingga seluruh bagian tubuhnya dapat dikonsumsi. Proses pergantian kulit perlu dipantau berkala agar waktu panen tepat, dan wadah individual pada sistem apartemen dinilai membantu pemantauan itu.

Kedua, penggemukan kepiting berukuran sedang. Kepiting tidak dibesarkan dari bibit kecil, tetapi dari ukuran sedang yang siap digemukkan, sehingga masa pemeliharaan menuju ukuran konsumsi lebih terfokus.

Pendekatan silvofishery merujuk pada penelitian ang ada. Sebagaimana kajian yang dilakukan oleh Poltak dkk. (2025) di kawasan mangrove Kladufu menunjukkan sistem ini berpotensi mendukung produktivitas kepiting bakau sekaligus mempertahankan fungsi ekosistem mangrove. Kemudian kajian yang dilakukan oleh Sudiarsa dkk. (2025) menunjukkan kandang individual (battery cage) dalam sistem silvofishery dapat mendukung tingkat kelangsungan hidup kepiting yang tinggi pada kondisi penelitian tertentu.

Namun, hasil di lokasi lain tidak otomatis berlaku di Jambak. Karakter lingkungan tiap kawasan berbeda, sehingga penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi mangrove setempat.

Seluruh konsep ini masih berada pada tahap perencanaan dan percontohan. Keterlibatan warga, kesiapan teknis, keberlanjutan mangrove, dan dukungan pasar menjadi faktor yang akan menentukan keberhasilannya.

Penulis: Fatimah Azani | Editor: Khairul Fadli Rambe