Agraris.id | 2026 — Pati Hariyose, pengelola Jambak Sea Turtle Camp, memperkenalkan inovasi pembibitan mangrove dengan tiga strategi unggulan di kawasan pesisir Jambak kepada Agraris Indonesia dan peserta magang dalam kegiatan Company Field Mission

bertema Exploring Blue Economy, Building Sustainable Ecosystems, Senin (28/9/2026). Inovasi ini diterapkan sebagai respons terhadap tantangan tingginya tingkat kematian bibit mangrove di area muara, dengan tujuan meningkatkan keberhasilan hidup tanaman melalui metode pembibitan yang lebih adaptif terhadap kondisi air dan tanah pesisir.

Tiga strategi utama yang diterapkan meliputi pemasangan pagar bambu dan jaring pelindung untuk mengurangi dampak arus dan abrasi, pembuatan gundukan tanah guna meninggikan posisi bibit agar tidak terendam terus-menerus, serta pembibitan berkelompok sebanyak 50 batang sebelum dilakukan seleksi untuk pindah tanam. Menurut Hariyose, pendekatan ini memungkinkan hanya bibit yang benar-benar kuat dan adaptif yang dipindahkan ke lapangan, sehingga meningkatkan ketahanan ekosistem mangrove di kawasan pesisir Jambak.

“Strategi ini dipilih dan dilakukan berdasarkan kondisi lahan dan karakteristik lingkungan pesisir yang unik, di mana faktor pasang surut air, salinitas tanah, serta kekuatan arus menjadi tantangan utama dalam pertumbuhan bibit mangrove,” ujarnya.

IKLAN AGRARIS

Lokasi pembibitan yang berada di sekitar muara menuntut penyesuaian khusus dalam setiap tahapan pengelolaan, mulai dari persemaian hingga pemindahan ke area tanam permanen. Setelah melalui proses seleksi ketat, bibit yang lolos akan ditanam di lapangan dengan kondisi yang lebih menantang, namun memiliki peluang hidup lebih tinggi berkat metode inovatif yang diterapkan. Langkah ini diharapkan dapat menjadi model percontohan bagi upaya restorasi mangrove berkelanjutan di kawasan pesisir lainnya.

Kreativitas pembuatan Pagar Bambu dengan Jaring

Strategi yang diterapkan adalah pembuatan pagar pada area pembibitan. Pagar tersebut dibuat menggunakan bambu dan jaring yang tersedia untuk digunakan di sekitar lokasi. Pagar dipasang pada area pembibitan sebagai pembatas tempat bibit mangrove ditempatkan selama proses pembibitan.

“Pagar dibuat dari bambu dan jaring, menggunakan bahan yang ada saja untuk memagari bagian pembibitan agar tidak ada hama yang menggangu seperti kambing atau kerbau,” tutur Yose.

Bambu digunakan sebagai bagian dari struktur pagar, sedangkan jaring dipasang pada bagian pagar untuk menutup dan membatasi area pembibitan. Pembuatan pagar dilakukan dengan menggunakan bahan sederhana yang tersedia di lokasi. Area yang telah dipagari menjadi tempat untuk menempatkan bibit selama proses pembibitan. Pagar tersebut menjadi salah satu bagian dari pengaturan lokasi sebelum bibit memasuki tahap pemindahan ke area penanaman.

Pemasangan pagar di area pembibitan untuk melindungi bibit dari terjangan sampah laut.

Gundukan Tanah untuk Menyesuaikan Kondisi Air

Strategi selanjutnya pada gundukan tanah pada area pembibitan. Pembuatan gundukan berkaitan dengan lokasi pembibitan yang berada di tepi muara dan mengalami perubahan ketinggian air ketika pasang. Yose menjelaskan bahwa posisi bibit perlu dibuat lebih tinggi agar tidak terlalu dalam ketika air muara mengalami kenaikan.

“Karena pembibitan dilakukan di tepi muara dan saat air pasang bibit bisa terlalu terendam, kami membuat gundukan tanah supaya posisi bibit lebih tinggi dan tidak terlalu dalam tergenang air,” jelasnya.

Gundukan dibuat dengan meninggikan permukaan tanah pada bagian tertentu yang digunakan untuk menempatkan bibit. Bibit kemudian ditempatkan pada permukaan tanah yang telah dibuat lebih tinggi tersebut. Pembuatan gundukan menjadi bagian dari pengaturan tempat pembibitan dengan mempertimbangkan kondisi air di sekitar muara. Saat kondisi air mengalami pasang, posisi bibit berada pada permukaan tanah yang lebih tinggi dibandingkan area di sekitarnya.

Sortasi Bibit dalam Kelompok Sebanyak 50 Batang

Strategi lainnya merupakan pengelompokan bibit dalam jumlah tertentu. Dalam satu kelompok pembibitan terdapat sekitar 50 batang bibit mangrove. Bibit tersebut dibibitkan dalam kelompok sebelum dilakukan pemilihan untuk tahap pindah tanam. Patih Hariyose menjelaskan bahwa bibit yang telah dibibitkan tidak seluruhnya langsung dipindahkan ke lokasi penanaman. Bibit terlebih dahulu dipilih berdasarkan kondisi pertumbuhannya.

“Bibit di dalam satu kelompok itu jumlahnya 50 batang. Nanti yang dipindahkan ke lapangan dipilih yang paling bagus, makanya kalau mati satu atau dua dibiarkan saja,” pungkasnya.

Pemilihan dilakukan sebelum bibit dibawa ke lokasi penanaman. Bibit yang dipilih merupakan bibit yang memiliki kondisi pertumbuhan lebih baik dibandingkan bibit lainnya dalam kelompok tersebut. Setelah melalui proses seleksi, bibit dipindahkan ke lokasi penanaman di lapangan. Berbeda dengan kondisi saat pembibitan yang dikelompokkan sebanyak 50 batang, bibit yang telah dipindahkan kemudian ditanam dengan jarak tertentu. Pemberian jarak dilakukan pada saat bibit telah berada di lokasi penanaman agar pertumbuhan lebih baik.

Melalui berbagai cara sederhana yang diterapkan dalam pembibitan mangrove, Yose memanfaatkan kreativitasnya untuk mendukung upaya menjaga ekosistem pesisir. Pembibitan dan penanaman mangrove di sekitar muara dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kawasan pesisir serta membantu mengurangi risiko abrasi.

“Saya memanfaatkan kreativitas untuk mendukung upaya menjaga ekosistem pesisir. Inovasi ini bukan hanya tentang menanam, tetapi bagaimana memastikan bibit bisa bertahan hidup di kondisi muara yang menantang,” tutupnya.

Penulis: Khoirun Nisa | Editor: Khairul Fadli Rambe