Agraris.id, 2026 — Di tengah ancaman krisis pangan global akibat fenomena El Nino dan ketidakpastian geopolitik, Indonesia berhasil menunjukkan performa positif dengan mengamankan ketersediaan pangan nasional. Hanya dalam kurun waktu 1,5 tahun, sektor pertanian menunjukkan efektivitasnya dengan mendongkrak stok beras nasional hingga mencapai angka signifikan, yakni 5 juta ton.

Pencapaian ini menuai apresiasi dari DPR RI melalui Anggota Komisi IV, Rajiv, yang menilai bahwa melimpahnya stok tersebut merupakan hasil nyata dari akselerasi kinerja kementerian di bawah komando Andi Amran Sulaiman. Menurutnya, keberhasilan menjaga stabilitas pangan di masa sulit ini tidak terlepas dari kepemimpinan yang responsif dalam menggerakkan roda sektor pertanian secara masif.

Target swasembada beras awalnya empat tahun, tapi bisa dikejar hanya dalam 1,5 tahun. Ini bukan capaian biasa,” ujar Rajiv, Senin (27/4/2026).

Menurut Rajiv, penguatan cadangan pangan nasional didorong oleh faktor utama yaitu peningkatan produksi beras. Berdasarkan laporan, produksi beras nasional melonjak sebesar 13,29 persen pada tahun lalu, dengan capaian saat ini menyentuh angka sekitar 5,7 juta ton per bulan.

IKLAN AGRARIS

Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian dan ancaman gangguan pangan, kita justru aman karena memiliki cadangan pangan yang berlimpah hingga 324 hari kedepan. Bahkan setiap bulan produksi beras kita mencapai 5,7 juta ton,” jelasnya.

Berbagai program strategis Kementerian Pertanian dinilai mulai membuahkan hasil nyata di lapangan melalui langkah-langkah konkret. Efektivitas ini tercermin dari keberhasilan perluasan areal tanam, optimalisasi lahan, serta kelancaran distribusi benih unggul dan alat mesin pertanian (alsintan). Selain itu, penguatan subsidi pupuk dan dorongan pada hilirisasi sektor pertanian serta peternakan menjadi pilar penting dalam memperkuat struktur pangan nasional.

Capaian tersebut tidak lepas dari konsistensi Kementan dalam menerapkan strategi jemput bola, khususnya melalui program pompanisasi dan pemanfaatan lahan rawa. Langkah taktis ini menjadi kunci utama dalam memitigasi dampak kekeringan ekstrem yang kerap mengancam produktivitas padi.

Sementara itu dibeberapa kesempatan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menekankan bahwa keberhasilan tersebut berakar pada keberanian untuk melakukan transformasi sistem secara total, bukan hanya mengandalkan rutinitas program semata.

“Stok 5 juta ton ini adalah pesan kepada dunia bahwa kita tidak sedang dalam kondisi rapuh. Kita melakukan percepatan tanam dan pompanisasi secara besar-besaran agar petani bisa tetap berproduksi meski air sulit. Fokus kita adalah memastikan perut 280 juta rakyat Indonesia tetap terisi tanpa harus bergantung pada belas kasihan negara lain,” tegas Amran.

Ketersediaan stok beras saat ini merupakan akumulasi dari kebijakan yang berorientasi pada hasil (result-oriented). Dengan stok yang melimpah, posisi tawar Indonesia di kancah internasional semakin kuat, sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat domestik. Tantangan ke depan kini bergeser pada bagaimana menjaga distribusi agar tetap merata dan memastikan harga di tingkat konsumen tetap terjangkau.[Mbee]

Referensi dan Bacaan Lanjutan:

https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=7719

https://www.antaranews.com/berita/5540321/wamentan-stok-beras-ri-tembus-5-juta-ton-tertinggi-sepanjang-sejarah