Ina E. Slamet, 2026 — Di dunia riset sosiologi pedesaan Indonesia telah kehilangan salah satu permata paling kritisnya dengan berpulangnya Ina Erna Slamet-Velsink (1926-2024), seorang intelektual yang menghabiskan hidupnya untuk membedah struktur sosial dan memperjuangkan martabat kaum tani. Sebagai sosok yang bukan sekadar akademisi di menara gading, Ina dikenal karena keberaniannya turun ke lumpur sawah untuk melihat realitas kemiskinan dan stratifikasi sosial dari sudut pandang petani kecil. Perjuangannya bukanlah tentang data statistik semata, melainkan tentang upaya kemanusiaan untuk mengangkat sejarah dari bawah yang acap kali diabaikan oleh narasi besar pembangunan. Melalui kacamata Ina, pertanian bukan hanya soal produksi pangan, tetapi tentang keadilan distribusi, hak atas tanah, dan hubungan timbal balik yang demokratis antara pemimpin dan rakyatnya.

Pemikiran Ina Slamet di sektor pertanian sangat dipengaruhi oleh keterlibatannya dalam penelitian mendalam di tahun 1960an, di mana ia menekankan pentingnya riset yang memihak pada buruh tani. Ia mengadopsi prinsip 3 Sama (Sama bekerja, Sama makan, Sama tidur) sebagai metode untuk meruntuhkan sekat antara peneliti dan subjeknya. Dalam karya monumentalnya, Views and Strategies of the Indonesian Peasant Movement, Ina menyoroti kegagalan pendekatan kebijakan yang bersifat top-down yang kerap kali mengabaikan variasi lokal dan kebutuhan akar rumput. Baginya, pembangunan pedesaan haruslah berangkat dari realitas sosiologis masyarakat setempat, bukan sekadar pemaksaan ideologi dari pusat. Ketajaman pemikirannya juga tertuang dalam buku Pokok-Pokok Pembangunan Masyarakat Desa, di mana ia membedah bagaimana kelas sosial berinteraksi dengan kebudayaan tradisional dalam menentukan nasib petani.

Ina percaya bahwa kekuatan seorang peneliti dan penggerak massa terletak pada kejujuran dan ketabahannya dalam menghadapi proses kehidupan yang pahit sekalipun. Terinspirasi dari nilai-nilai luhur yang juga ia pegang dalam kehidupan pribadinya—termasuk melalui masa-masa sulit penahanan pasca-1965—Ina menunjukkan bahwa integritas adalah kunci. Dalam merefleksikan prinsip hidup yang kuat, terdapat pesan yang selaras dengan jiwanya: “hidup bukanlah tentang siapa yang terbaik tapi siapa yang bisa berbuat baik.” Prinsip ini ia terjemahkan dengan memberikan suaranya bagi mereka yang tak bersuara, yakni kaum tani yang terjepit oleh konflik agraria dan inflasi hebat di masa itu. Ia selalu menekankan bahwa pemimpin yang baik tidak boleh menciptakan jurang dengan rakyatnya demi kepentingan elitis.

Lebih jauh lagi, Ina memandang bahwa ketangguhan dalam berjuang bagi petani membutuhkan kesabaran yang luar biasa, terutama bagi perempuan peneliti yang terjun ke lapangan yang keras.

IKLAN AGRARIS

“Wanita hebat melukis kekuatan melalui proses kehidupan. Bersabar saat tertekan, tersenyum saat hati menangis, diam saat terhina, mempesona karena memaafkan & mampu membalut ‘Luka Hati’ dengan sabar.” Tegasnya.

Ketabahan inilah yang membawanya tetap produktif menulis meski berada dalam tahanan rumah selama bertahun-tahun dan harus kehilangan suaminya, Slamet, dalam gejolak politik. Baginya, kejujuran intelektual adalah harga mati.

Orang yang tidak jujur sulit setia. Jangan ikatkan hati, diri dan kehidupan anda kepada orang yang fasih berbicara tentang hal-hal yang jelas-jelas bohong.” Ujarnya.

Karya-karya Ina Slamet, mulai dari analisis stratifikasi desa hingga terjemahan karya sastra besar seperti Bumi Manusia ke bahasa Belanda, merupakan warisan intelektual yang tak ternilai. Ia membuktikan bahwa gerakan pertanian yang kuat harus didasari oleh pemahaman sejarah yang jujur. Hingga akhir hayatnya, Ina tetap menjadi inspirasi bagi para aktivis dan peneliti agraria untuk selalu mendengarkan suara dari bawah. Ia mengingatkan kita semua bahwa di balik setiap bulir padi yang kita konsumsi, ada struktur kekuasaan dan keringat kaum tani yang menuntut untuk dilihat secara adil, bukan hanya sebagai komoditas, melainkan sebagai jantung dari kedaulatan bangsa. [Mbee]