Agraris.id | 2026 — Khoirun Nisa, yang akrab disapa Ica, dua kali seminggu selama bulan Ramadan mendaki Bukik Gompong di kaki Gunung Talang, Kabupaten Solok. Sesekali ia berjalan di bawah hujan dengan mantel, menapaki jalur menanjak, lalu menyeberangi sungai kecil. Tujuannya bukan puncak, melainkan makhluk-makhluk kecil yang hidup di permukaan tanah dan di bawah tumpukan daun kering.

Khoirun Nisa, mahasiswa Proteksi Tanaman Universitas Andalas (UNAND), menyusun skripsi dengan judul: “Keanekaragaman Serangga Tanah pada Habitat Terganggu di Bukik Gompong”. Ia ingin tahu apakah perbedaan tingkat gangguan pada habitat juga diikuti perbedaan keanekaragaman serangga tanah.

Ketertarikan itu berawal dari keresahannya terhadap organisme yang jarang diperhatikan. Menurutnya, pembukaan lahan mengubah vegetasi dan serasah yang menjadi tempat tinggal serangga tanah.

“Saya ingin mengetahui bagaimana aktivitas manusia dan perubahan kondisi hutan memengaruhi organisme kecil yang sering kali kurang diperhatikan, padahal memiliki peran penting dalam ekosistem,” ujarnya.

IKLAN AGRARIS

Perangkap Jebak dan Serasah

Penelitian ini memakai metode survei dengan purposive sampling. Ica memasang perangkap jebak (pitfall trap) untuk menangkap serangga yang aktif berjalan di permukaan tanah. Ia juga mengambil sampel serasah untuk mengamati serangga yang hidup di dalam tumpukan daun kering.

Metode itu dipilih karena sesuai untuk mengidentifikasi keanekaragaman serangga di habitat dengan tingkat gangguan berbeda. Selain itu, metode ini relatif mudah diterapkan di lapangan dan memungkinkan perbandingan jenis serta jumlah serangga di dua habitat. Dua habitat itu adalah kawasan dengan gangguan ringan dan gangguan berat.

Bukik Gompong
Pemasangan pitfall trap sejajar permukaan tanah guna menjaring serangga tanah.

Istilah “habitat terganggu” sendiri acap kali disalahpahami. Ica menjelaskan bahwa istilah yang digunakan dalam penelitiannya itu merujuk pada kawasan yang kondisi alaminya sudah berubah akibat aktivitas pertanian, tetapi tetap menjadi habitat bagi berbagai jenis serangga tanah.

Temuan yang Mengejutkan sekaligus Menarik

Hasilnya cukup mengejutkan. Di Bukik Gompong, Ica menemukan 10.142 individu serangga tanah yang terdiri atas 83 spesies dari 25 famili dan 6 ordo. Tingkat kesamaan jenis antara habitat terganggu ringan dan berat mencapai 93%.

“Menurut saya, data yang paling menarik adalah ditemukannya 10.142 individu serangga tanah yang terdiri atas 83 spesies dari 25 famili dan 6 ordo di Bukik Gompong tersebut. Di samping itu, tingkat kesamaan jenis serangga antara habitat terganggu ringan dan berat mencapai 93%, yang menunjukkan bahwa kedua habitat tersebut masih memiliki komposisi jenis serangga yang relatif serupa meskipun tingkat gangguannya berbeda,” jelasnya.

Temuan ini memberi sudut pandang baru baginya bahwa habitat yang terganggu lebih berat tidak selalu punya keanekaragaman serangga tanah yang jauh lebih rendah. Nisa memberi catatan penting agar hasil ini tidak disalahartikan.

“Hal ini tidak berarti gangguan habitat tidak berdampak terhadap ekosistem, melainkan menunjukkan bahwa respons serangga tanah terhadap gangguan dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi lingkungan dan kemampuan adaptasi masing-masing jenis,” tegasnya.

Dari Bukik Gompong ke Rencana Kebun Kopi

Riset ini sudah menarik minat seorang petani pemilik lahan di Bukik Gompong yang berencana mengembangkan budidaya kopi. Petani itu meminta Ica meneliti keanekaragaman serangga tanah untuk mengetahui kondisi ekosistem lahannya sebelum dibuka.

Ica menilai hasil penelitiannya hanya data awal. Menurutnya, langkah paling mendesak adalah survei dan penilaian lingkungan sebelum lahan dikembangkan, disusul kajian kesesuaian lahan yang mencakup kondisi tanah, ketinggian, iklim, dan faktor lingkungan lainnya.

“Dengan begitu, pengembangan budidaya kopi dapat dilakukan berdasarkan kondisi dan potensi lahan, bukan hanya berdasarkan pertimbangan ekonomi,” katanya.

Selain petani di sekitar Bukik Gompong, ia menyebut akademisi sebagai pihak yang diuntungkan, karena hasil ini bisa menjadi referensi penelitian lanjutan tentang serangga tanah dan kondisi habitatnya.

Keterbatasan yang Diakui Sendiri

Ica tidak menyebut penelitiannya sudah final. Pengamatan hanya dilakukan pada dua habitat sehingga belum mewakili seluruh kondisi di Bukik Gompong. Penelitian ini juga belum mengkaji peran tiap jenis serangga terhadap kesuburan tanah maupun kesesuaian lahan untuk kopi.

Dokumentasi informan setelah selesai wisuda (Khoirun Nisa, S.P)

Jika bisa mengulang, ia akan memperluas lokasi dan waktu pengamatan, menambah pengukuran suhu, kelembapan, pH tanah, dan ketebalan serasah, serta memantau secara berkala sebelum dan sesudah pembukaan lahan. Penelitian lanjutan, menurutnya, idealnya menghubungkan kondisi tanah, vegetasi, dan keanekaragaman serangga tanah.

Di akhir sesi, Ica berpesan kepada rekan-rekan mahasiswa yang sedang berjuang menyusun skripsi agar tidak patah semangat di tengah jalan.

“Setiap kesulitan merupakan kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Jangan terlalu membandingkan perjalanan kita dengan orang lain karena setiap orang memiliki waktunya masing-masing,” tuturnya.

“Skripsi bukan tentang siapa yang paling cepat selesai, tetapi tentang bagaimana kita bertanggung jawab terhadap proses dan hasil penelitian kita,” tutupnya.[Mbee]