Agraris.id | 2026 — Genomics kini menjadi salah satu fokus utama percepatan teknologi, termasuk di sektor pertanian.Hal ini tergambar dari pernyataan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arief Satria, S.P., M.Si., pada Sidang Terbuka dan Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-70 (Lustrum XIV) Universitas Andalas, yang menyoroti percepatan perubahan teknologi sebagai penentu arah pembangunan ke depan, sekaligus menegaskan bahwa Universitas Andalas memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi innovation university.

Dalam orasinya, ia menggarisbawahi enam teknologi tren 2025–2045 sebagai peta jalan riset nasional yang disusun bersama Ristekdikti dan Mendiktisaintek sesuai kebutuhan nasional. Yang menarik, salah satu poin kunci yang memikat perhatian adalah pernyataannya bahwa kalangan kesehatan dan pertanian kini sama-sama mulai berbicara tentang genomika sebagai arah riset yang akan membentuk lanskap kedua sektor tersebut.

Ada enam teknologi terbaru yang akan menjadi tren ke depan sebagai peta jalan 2025–2045 sesuai kebutuhan Nasional. Salah satunya genomics, yang sekarang sudah dibicarakan baik oleh orang-orang di bidang pertanian maupun kesehatan,” ujarnya.

Apa Itu Genomics dan Mengapa Merambah Pertanian

Secara sederhana, genomics adalah cabang ilmu yang mempelajari keseluruhan susunan genetik suatu organisme, alih-alih hanya satu atau beberapa gen. Ketika prinsip ini diterapkan pada sektor pertanian, muncul istilah agrigenomics atau genomics pertanian. Perusahaan teknologi genom global, Illumina, dalam laman resminya menjelaskan bahwa agrigenomics memungkinkan petani, pemulia tanaman, dan peneliti mengidentifikasi penanda genetik yang berkaitan dengan sifat-sifat unggul suatu tanaman atau hewan ternak, yang kemudian menjadi dasar pengambilan keputusan budi daya maupun pemuliaan.

Teknologi genotyping dan sekuensing generasi baru (next-generation sequencing) menjadi dua pendekatan utama yang digunakan dalam agrigenomics. Menurut Illumina, kombinasi keduanya membantu mempercepat pengembangan tanaman dan ternak yang lebih produktif serta lebih tahan terhadap tekanan lingkungan, sekaligus mendukung upaya menjawab tantangan pangan global di tengah populasi dunia yang terus bertambah.

Contoh Penerapan di Dunia: dari Jagung Tahan Kering hingga Genetika Ternak

Sejumlah studi kasus yang dipublikasikan Illumina menggambarkan bagaimana agrigenomics telah diterapkan secara nyata. Perusahaan agroindustri Syngenta, misalnya, memanfaatkan teknologi sekuensing untuk memahami mekanisme genetik di balik toleransi kekeringan pada varietas jagung hibrida yang mereka kembangkan—topik yang relevan mengingat kemarau panjang juga tengah menjadi tantangan pertanian di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.

Di sektor peternakan, penerapan genotyping berbasis chip genetik (BovineSNP50 BeadChip) digunakan peternak sapi Angus di Texas, Amerika Serikat, untuk menyeleksi kualitas genetik ternak dari peternakan hingga ke meja makan. Sementara itu, seorang peternak sapi perah di Prancis, Alain Decher, menuturkan kepada Illumina bahwa penerapan genotyping memungkinkan peternak menyeleksi ternak berdasarkan kriteria spesifik, sehingga mempercepat kemajuan genetik pada morfologi, produksi susu, dan kualitasnya dibanding metode seleksi pemuliaan konvensional.

Penerapan lain mencakup pemantauan mikrobioma usus ternak untuk mendukung kesehatan hewan, hingga pelacakan genetik penyebaran virus pada babi guna mendukung respons kesehatan hewan yang lebih cepat. Illumina turut mendorong kolaborasi lintas lembaga riset melalui skema konsorsium agrigenomics, yang memungkinkan pemulia dan peneliti dari berbagai negara berbagi sumber daya untuk mengembangkan produk riset genetik sesuai kebutuhan spesies masing-masing.

Relevansi bagi Riset Pertanian Indonesia

Pernyataan Kepala BRIN tentang menguatnya perbincangan seputar genomics di kalangan pertanian sejalan dengan tren yang lebih luas. Sejumlah lembaga riset dan universitas pertanian di Indonesia turut mulai mengembangkan riset berbasis genetik, mulai dari pemuliaan varietas unggul hingga pemetaan genetik untuk ketahanan terhadap hama dan perubahan iklim. Meski demikian, penerapan agrigenomics secara luas di tingkat petani skala kecil di Indonesia masih menghadapi tantangan biaya teknologi dan keterbatasan infrastruktur laboratorium genetik, sehingga penerapannya untuk saat ini lebih banyak terpusat di lembaga riset dan perusahaan benih skala besar.

Bila tren yang disinggung Kepala BRIN ini terus berkembang, riset genomics berpotensi menjadi salah satu arah baru kolaborasi antara perguruan tinggi pertanian, lembaga riset, dan sektor industri benih maupun peternakan di Indonesia ke depan.[Mbee]

Sumber Referensi dan Bacaan Lanjutan:
https://www.illumina.com/areas-of-interest/agrigenomics.html