Agraris.id | 2026 — Kalau selama ini cabai (Genus Capsicum) hanya dikenal sebagai bumbu dapur yang harganya sering bikin kaget, coba pikir ulang. Di balik rasa pedasnya, tanaman ini ternyata menyimpan potensi budidaya yang jauh lebih menjanjikan dibanding banyak jenis hortikultura lain. Masa hidupnya panjang, panen bisa berulang, dan hasilnya bisa terus mengalir sepanjang tahun—asal tahu caranya.

Potensi itu diungkap langsung oleh Imam Hanif al Fikri, praktisi pertanian sekaligus alumni program studi Agroteknologi Universitas Andalas (UNAND), saat bersama di Lahan Atas Pertanian UNAND. Dalam kesempatan itu, Hanif berbagi soal karakteristik tanaman cabai, teknik perawatan yang efektif, hingga tantangan cuaca yang perlu diantisipasi petani.

“Cabai itu unik dibanding tanaman sayuran lain. Sekali tanam, kita tidak langsung selesai setelah panen pertama. Justru dari situlah potensi sebenarnya mulai terlihat, karena tanaman ini bisa terus berbuah kalau dirawat dengan benar,” ujar Hanif.

Soal kapan bisa mulai menikmati hasil, Hanif menjelaskan bahwa jawabannya sangat bergantung pada jenis cabai yang dipilih. Cabai rawit bisa dipanen lebih cepat, yakni pada usia 2,5 hingga 3 bulan setelah tanam. Sementara cabai biasa membutuhkan waktu sekitar 4 bulan sebelum memasuki panen pertamanya.

IKLAN AGRARIS

Untuk bisa mencapai usia produktif yang panjang, kunci utamanya terletak pada kedisiplinan menjaga asupan nutrisi dan air. Di tahap awal, tanaman perlu diberi pupuk dasar NPK. Kebutuhan airnya pun harus terjaga; idealnya cabai disiram minimal seminggu sekali saat kemarau, atau bisa dirutinkan dua hari sekali. Selain itu, penyemprotan pestisida sebulan sekali diperlukan agar buah tetap mulus dan bebas hama.

“Kuncinya sebenarnya sederhana: konsisten. Pupuk NPK di awal, penyiraman rutin minimal seminggu sekali waktu kemarau, lalu pestisida sebulan sekali. Kalau tiga hal itu dijaga, tanaman kita bisa bertahan produktif jauh lebih lama dari yang diperkirakan,” jelasnya.

Meski begitu, ada satu faktor yang tidak bisa sepenuhnya dikontrol: cuaca. Hanif mengingatkan bahwa musim hujan justru menjadi ancaman terbesar bagi tanaman cabai. Minimnya paparan sinar matahari membuat buah lebih mudah membusuk lebih cepat dari biasanya.

Sebaliknya, bila cuaca mendukung dan perawatan berjalan optimal, masa produktif cabai bisa sangat menguntungkan. Tanaman ini mampu bertahan hingga satu tahun penuh dengan frekuensi panen antara 6 hingga 12 kali.

“Kalau cabai, periode kita menanamnya bisa lama. Jika dirawat dengan baik, umurnya panjang dan kita bisa panen sampai 12 kali bahkan setahun. Namun, tanaman ini sebenarnya lebih bagus di musim yang agak panas karena kalau di musim hujan, dia justru lebih cepat busuk akibat kurang cahaya matahari,” pungkasnya.[PTR]