Agraris.id | 2026 — Pengelola Jambak Sea Turtle Camp, Pati Hariyose, menanam tiga jenis tanaman pesisir secara berlapis di kawasan Pantai Pasir Jambak. Mangrove ditanam di bibir pantai, pidada di bagian tengah, dan cemara laut di bagian muara. Metode ini disampaikan Yose sewaktu team Agraris Indonesia mengunjungi Jambak Sea Turtle Camp dalam kegiatan Company Field Mission bertema Exploring Blue Economy, Building Sustainable Ecosystems.

Ketiga tanaman itu membentuk apa yang disebut jembatan tanaman, yaitu deretan vegetasi yang menghubungkan daratan dan laut. Setiap jenis ditempatkan sesuai kondisi lahan tempat ia tumbuh.

“Tanaman di lahan ini bukan hanya mangrove, tetapi ada juga pidada dan cemara laut. Ditanam dengan menyesuaikan fungsinya,” ujar Yose.

Cemara Laut di Bagian Muara

Di barisan terdepan, cemara laut ditanam pada hamparan pasir yang kering dan terbuka. Tajuk serta percabangannya berfungsi sebagai pemecah angin laut, sementara akarnya membantu menahan pergerakan pasir akibat tiupan angin. Kondisi ini menjadikannya cocok untuk kawasan pantai yang luas dan terbuka.

Cemara laut (Casuarina equisetifolia) mampu bertahan pada tanah berpasir yang miskin unsur hara, toleran terhadap semprotan garam, dan kuat menghadapi angin kencang. Tajuknya yang rapat memecah embusan angin, sedangkan sistem perakarannya mengikat butiran pasir sehingga membantu menstabilkan gumuk pasir dan mengurangi erosi.

Selain berfungsi sebagai penahan angin dan pasir, deretan cemara laut juga membantu mengurangi dampak abrasi serta menciptakan kawasan pantai yang lebih teduh dan terlindungi.

Pidada di Zona Tengah

Di bagian tengah, pidada ditanam pada kawasan payau, tempat air tawar bertemu air asin. Menurut Yose, pidada turut berfungsi menahan abrasi dan mendukung rehabilitasi pantai. Posisinya di zona dengan kadar garam yang berubah-ubah menjadikannya penghubung antara bibir pantai dan area mangrove.

Pidada (Sonneratia caseolaris) memang cocok tumbuh pada tanah lumpur dengan salinitas rendah hingga menengah, terutama di muara dan sepanjang sungai yang dipengaruhi pasang surut. Akar napasnya yang berbentuk kerucut membantu menstabilkan tanah, menahan sedimen, serta memperkuat garis pantai dari gelombang dan angin laut.

Dengan posisi strategis tersebut, pidada tidak hanya menjadi pelindung alami, tetapi juga menciptakan transisi ekologis yang penting. Ia membantu memperluas jalur vegetasi dari tanaman pantai di depan menuju hutan mangrove di belakangnya, sehingga kawasan pesisir menjadi lebih tahan terhadap abrasi dan lebih mendukung kehidupan biota mangrove.

Mangrove di Bagian Bibir Pantai

Mangrove (Rhizophora apiculata) ditanam di kawasan berlumpur yang dipengaruhi pasang surut. Sistem perakarannya mampu menahan sedimen dan memperlambat energi gelombang sebelum mencapai daratan. Kawasan ini juga menjadi tempat berlindung, mencari makan, serta berkembang biak bagi ikan, udang, dan kepiting.

“Mangrove mampu melindungi pantai dari abrasi, sekaligus menjadi habitat penting bagi beragam biota laut,” ujar Yose.

Pengelola juga membedakan peran setiap tanaman sesuai posisi dan karakteristik ekologisnya. Karena itu, tanaman tidak dinilai dengan satu ukuran fungsi yang sama.

“Untuk penyerapan karbon, mangrove lebih efektif,” kata Yose.

Perlindungan Berlapis dari Bibir hingga Muara Pantai di Kawasan Jambak Sea Turtle Camp

Dengan susunan ini, cemara laut menahan angin dan pasir, pidada menopang zona payau, dan mangrove menjaga kawasan lumpur serta habitat biota. Perlindungan pesisir tidak bertumpu hanya pada satu jenis vegetasi.

Jambak Sea Turtle Camp padukan 3 jenis vegetasi guna menjaga ekosistem kawasan konservasi.

Yose berharap penerapan metode ini membuat lebih banyak orang memahami fungsi tiap tanaman dalam sistem rehabilitasi pantai.

“Yang tidak tahu fungsinya jadi tahu, ikut mendukung,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemahaman tersebut penting agar masyarakat tidak hanya melihat penanaman sebagai kegiatan rutin, tetapi juga sebagai upaya bersama menjaga pantai. Ketika orang mengetahui peran cemara laut, pidada, dan mangrove, mereka diharapkan lebih peduli terhadap kelestarian tanaman yang telah ditanam.

“Kalau masyarakat paham manfaatnya, mereka akan ikut menjaga. Tanamannya tidak hanya jadi milik kelompok, tetapi milik bersama,” tuturnya.

Dengan kesadaran itu, Yose optimistis rehabilitasi pantai dapat berjalan lebih berkelanjutan. Partisipasi warga menjadi kunci agar tanaman yang ditanam terawat, tidak rusak, dan benar-benar berfungsi melindungi kawasan pesisir dalam jangka panjang.

Penulis: Adinda Ridhollahu Anha | Editor: Khairul Fadli Rambe