Agraris.id | 2026 — Pantai Muaro Bantiang, Kawasan Mandeh, Nagari Pulau Karam, Pesisir Selatan, Sumatra Barat, menjadi lokasi pelaksanaan conservation camp dalam rangkaian kampanye Swara Rimbo Pasisia. Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 17–19 Juli 2026, dengan fokus restorasi kawasan pesisir melalui penanaman mangrove. Program ini digagas oleh Sumatra Wild Adventure berkolaborasi dengan Wahid Foundation dan Temasek Foundation.

PIC Project Swara Rimbo Pasisia, Afwan, mengatakan conservation camp merupakan satu dari beberapa rangkaian kegiatan dalam kampanye tersebut. Selain restorasi mangrove, program ini juga mencakup pengayaan potensi lokal masyarakat, baik dari sisi UMKM maupun sektor wisata.

Untuk restorasi ini sendiri memang diadakan karena kondisi di Nagari Pulau Karam itu mengalami abrasi yang cukup signifikan sekitar 20 persen garis pantai Pulau Karam telah hilang akibat abrasi,” ujar Afwan saat diwawancarai Diko.

Dalam kegiatan ini, tim menargetkan penanaman 1.000 bibit mangrove. Hingga hari ketiga pelaksanaan, baru 350 bibit yang berhasil ditanam, dengan proses penanaman dilakukan secara bertahap.

IKLAN AGRARIS

Afwan menjelaskan pemilihan Nagari Pulau Karam sebagai lokasi kegiatan didasarkan pada hasil assessment yang telah dilakukan sebelumnya. Kawasan ini dinilai memiliki potensi wisata dan UMKM yang cukup besar, ditopang garis pantai yang luas dengan ombak yang menarik minat wisatawan. Namun, potensi tersebut kini terancam oleh laju abrasi yang terus berlangsung.

Hal itu yang menjadi salah satu penyebab kenapa kita memilih Pulau Karam sebagai lokasi kegiatan dari Suara Rimba Pesisir ini,” katanya.

Ke depan, Afwan berharap kegiatan ini menjadi titik awal kolaborasi berkelanjutan antara Sumatra Wild Adventure dan masyarakat Pulau Karam. Ia juga mengajak pihak-pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan untuk turut memperhatikan kondisi Pulau Karam, mengingat kawasan tersebut menghadapi ancaman berlapis: abrasi, deforestasi mangrove dalam skala yang cukup luas, serta kerentanan sosial ekonomi masyarakat yang mayoritas masih menggantungkan hidup dari sektor perikanan tangkap.

Keresahan ini dipengaruhi dengan kondisi lingkungan di Pulau Karam itu sendiri,” kata Afwan menutup wawancara.[Mbee}