Agraris.id | 2026 — Ada satu ironi kecil yang justru menjadi pelajaran besar ketika rombongan Agraris Indonesia Internship Program (AIIP) Batch II turun ke Ekowisata Sungkai Green Park (ESGP) kemarin. Sosok yang paling banyak memukul cara pikir kami tentang pertanian bukanlah seorang sarjana pertanian, bukan pula anak yang lahir dan besar dari keluarga petani. Ia adalah Bapak Rimbra—mantan buruh bangunan yang hari ini berdiri sebagai pemilik sekaligus arsitek dari sebidang lahan yang berhasil ia sulap menjadi ruang wisata edukatif berbasis pertanian.

Sejak perkenalan pertama, ada yang berbeda dari cara beliau bicara. Bukan bahasa teknis khas penyuluh pertanian, melainkan semangat seorang perintis yang bicara dari pengalaman jatuh-bangun. Dalam bahasa kami sendiri, baru berkenalan saja sudah kena mental—bukan karena diintimidasi, tapi karena disadarkan bahwa jarak antara niat dan hasil ternyata bisa dipangkas oleh satu hal yang acap kali kami remehkan sebagai mahasiswa, yaitu keikhlasan yang berjalan beriringan dengan kerja keras.

Selama ini, ada semacam mitos yang diam-diam kita percaya bahwa pertanian adalah dunia yang hanya bisa dimasuki secara sah oleh mereka yang lahir dari rahim petani, atau setidaknya oleh lulusan fakultas pertanian. Bapak Rimbra mematahkan mitos itu dengan cara paling sederhana—dengan bekerja. Latar belakangnya sebagai buruh bangunan justru menjadi modal yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang pertanian: kepekaan terhadap tata ruang, proporsi, dan estetika bangunan.

Itulah yang tampak paling menonjol di ESGP. Penataan lahan dan tanamannya rapi, nyaris seperti taman yang dirancang oleh desainer lanskap profesional. Kursi-kursi yang tersebar di sana bukan sekadar tempat duduk fungsional, melainkan elemen dekoratif yang dibentuk dengan cermat. Ini bukan kebetulan. Ini adalah pertemuan antara dua dunia yang selama ini kita pisahkan secara kaku: keterampilan tukang bangunan dan visi pertanian.

IKLAN AGRARIS

Sungkai—tanaman yang menjadi ikon sekaligus nama tempat ini—dipilih bukan karena ia komoditas pertanian paling menguntungkan, melainkan karena ia jadi identitas. Ditambah kolam ikan hias yang tahun ini mulai dibudidayakan, Bapak Rimbra sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar kebun, ia membangun ekosistem wisata yang menautkan pertanian dengan pengalaman pengunjung. Wisata agraris, dalam versi beliau, bukan tempel-tempel spot foto di lahan pertanian, melainkan mengubah lahan itu sendiri menjadi estetika yang bisa dinikmati sekaligus dipelajari.

Bagi kami yang tergabung dalam AIIP Batch II, kunjungan ini bukan sekadar agenda lapangan biasa. Ia menjadi semacam counter-narrative terhadap keraguan yang kadang muncul diam-diam: apakah kami cukup punya kredensial untuk bicara soal pertanian, sementara sebagian dari kami juga tidak berlatar belakang pertanian?

Rimbra menjawabnya tanpa harus berkata secara eksplisit. Jawabannya ada di lahan yang ia kelola. Pramoedya Ananta Toer pernah menulis bahwa kerja adalah satu-satunya cara manusia membuktikan dirinya hidup dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar menjalani hidup. Rimbra membuktikan itu: ia tidak menunggu restu akademis atau garis keturunan untuk mengklaim ruang di sektor pertanian. Ia hanya bekerja, jatuh, mencoba lagi, dan pada akhirnya menemukan bentuknya sendiri.

Ini penting untuk disampaikan, kita tidak boleh terjebak pada romantisme bahwa hanya anak pertanian sejati yang berhak bicara soal pangan dan lahan. Justru kisah-kisah seperti Bapak Rimbra inilah yang memperluas makna pertanian itu sendiri, yaitu pertanian adalah ruang terbuka bagi siapa saja yang mau memasukinya dengan niat yang kuat dan kerja yang jujur.

Ekowisata Sungkai Green Park mengajarkan kepada kami satu hal sederhana namun acap kali dilupakan, yaitu modal pertama dalam bertani bukan tanah warisan, bukan gelar sarjana, dan bukan pula garis keturunan. Modal pertama adalah niat yang berjalan bersama keikhlasan dan kerja nyata. Selebihnya, jalan akan terbuka dengan caranya sendiri—kadang lewat jalan yang tidak pernah kita duga, seperti seorang mantan buruh bangunan yang kini menanam bukan hanya sungkai, tapi juga harapan bagi siapa saja yang ingin mulai bertani tanpa merasa perlu izin dari masa lalu.

Penulis: Khairul Fadli Rambe
Mahasiswa Hukum Keluarga UIN Imam Bonjol Padang