Agraris.id | 2026 — Harga cabai rawit di sejumlah daerah melonjak tajam hingga menembus Rp152.872 per kilogram (kg), dengan rata-rata harga nasional mencapai Rp81.052 per kg per 10 September 2026. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkap, lonjakan ini terjadi di tengah kemarau berkepanjangan, serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti trips dan kutu kebul, serta alih tanam sejumlah petani ke komoditas lain, sebagaimana terungkap dalam rapat koordinasi Bapanas bersama petani cabai pada 26 Agustus 2026.

Dalam merespons kondisi ini pemerintah kembali menyiapkan skema Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) guna memobilisasi pasokan dari daerah surplus ke wilayah dengan harga tinggi, dengan melibatkan petani binaan Kementerian Pertanian (Kementan) yang tergabung dalam program Champion Cabai.

Pemantauan Bapanas Terhadap Disparitas Harga Cabai Rawit

Berdasarkan pemantauan Bapanas per 10 September 2026, harga cabai rawit tertinggi tercatat di Sulawesi Utara yang mencapai Rp152.872 per kg, sementara harga terendah berada di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar Rp56.604 per kg. Rentang harga yang lebar antarwilayah ini menjadi salah satu pertimbangan utama pemerintah untuk kembali menjalankan skema distribusi lintas daerah.

IKLAN AGRARIS

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan dinamika harga dan pasokan cabai rawit, khususnya di wilayah Kediri, perlu segera direspons.

Untuk cabai rawit, berdasarkan informasi dari Kediri, saat ini terdapat dinamika harga dan pasokan yang perlu segera kita respons. Karena itu, kami ingin terkoneksi kembali dengan teman-teman Kementan untuk melihat wilayah mana yang dapat kita dukung melalui FDP,” ujar Ketut.

OPT dan Alih Tanam Jadi Pemicu Lonjakan Harga Cabai Rawit

Selain faktor cuaca, tekanan pasokan cabai rawit juga datang dari sisi budi daya. Dalam rapat koordinasi Bapanas bersama petani cabai pada 26 Agustus 2026, teridentifikasi bahwa serangan hama trips dan kutu kebul turut menekan produktivitas tanaman cabai di sejumlah sentra. Trips dan kutu kebul dikenal sebagai vektor penyebar virus kuning (gemini virus) yang menyebabkan daun keriting dan menurunkan hasil panen apabila tidak dikendalikan sejak dini.

Di sisi lain, sejumlah petani juga tercatat beralih menanam komoditas selain cabai, sebuah keputusan yang lazim terjadi ketika harga cabai pada musim tanam sebelumnya dianggap kurang menguntungkan dibanding komoditas substitusi. Kombinasi tekanan hama dan pengurangan luas tanam ini yang, bersama kemarau panjang, mendorong pasokan cabai rawit tidak merata antarwilayah dan turut menyumbang lonjakan harga di beberapa daerah.

Skema Distribusi untuk Menstabilkan Harga Cabai Rawit

Ketut menjelaskan, petani Champion Cabai binaan Kementan akan kembali dilibatkan dalam distribusi pasokan dari daerah dengan harga relatif rendah ke wilayah yang mengalami kenaikan harga.

Kita undang kembali para petani champion kita untuk membantu distribusikan ke wilayah-wilayah yang harganya relatif tinggi,” ujarnya.

Skema serupa sebelumnya pernah dijalankan pada triwulan I-2026, dengan total volume FDP cabai rawit mencapai 5.590 kg. Rinciannya, 3.150 kg dimobilisasi dari Enrekang, Sulawesi Selatan, ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta; 1.140 kg dikirim ke Lombok Tengah; dan 1.300 kg ke Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Program itu turut menyumbang pada pengendalian inflasi pangan nasional, di mana cabai rawit tercatat menjadi salah satu komoditas penyumbang deflasi pada April 2026.

Di tengah tekanan OPT dan alih tanam tersebut, Kementan memastikan produksi cabai rawit nasional masih mencukupi kebutuhan hingga akhir tahun. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Sudi Mardianto, memperkirakan produksi cabai rawit nasional pada September 2026 mencapai sekitar 119 ribu ton.

Untuk cabai rawit secara nasional itu produksinya di bulan September itu sekitar 119 ribu ton. Di Jawa Timur itu Banyuwangi standing crop yang ada sekarang sekitar 1.486 hektare. Kemudian di Sampang itu ada 1.691 hektare. Itu produksinya sudah mulai tinggi sekitar 5 ribuan,” jelas Sudi.

Selain Jawa Timur, sentra produksi cabai di Pulau Jawa juga tersebar di beberapa daerah, seperti Temanggung, Brebes, dan Magelang. Produksi cabai di wilayah tersebut diproyeksikan meningkat seiring dengan dimulainya masa panen.

Untuk wilayah Jawa, sentra produksinya masih terkonsentrasi di Temanggung, Brebes, dan Magelang. Saat ini produksinya memang masih relatif rendah karena sebagian besar tanaman kemungkinan baru memasuki tahap penanaman. Namun, ke depan, peningkatan produksi tersebut diharapkan dapat mengantisipasi potensi kenaikan harga menjelang Natal dan Tahun Baru,” ujarnya.

Kementerian Pertanian juga memastikan petani Champion Cabai siap mendukung pemerintah apabila program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) kembali digelar. Program tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi disparitas harga cabai antarwilayah.

Apabila nantinya pemerintah kembali menjalankan program distribusi ke wilayah-wilayah yang membutuhkan, para petani telah menyatakan kesiapannya untuk membantu. Mereka siap menyalurkan cabai dari daerah yang produksinya mencukupi ke wilayah dengan harga cabai rawit yang tinggi. Pada prinsipnya, mereka siap membantu memasok kebutuhan cabai di daerah-daerah tersebut,” pungkasnya.[Mbee]

Sumber Referensi dan Bacaan Lanjutan:
https://www.cnbcindonesia.com/news/20260911143257-4-767239/harga-cabai-melejit-tembus-rp152000-pemerintah-mulai-turun-tangan