Agraris.id | 2026 — Prof. Dr. Momon Sodik Imanudin, S.P., M.Sc., menggagas perguruan tinggi di Kota Padang menjadi bapak asuh bagi sungai.

Gagasan tersebut disampaikan Prof. Momon dalam kuliah umum bertema “Tanah Sehat, Kota Selamat: Cara Ilmu Tanah Cegah Banjir Sebelum Air Datang” di Jurnalis Kamil Convention Hall, Fakultas Pertanian Universitas Andalas (UNAND), Senin (26/10/2026).

Prof. Momon, yang merupakan Dewan Sumber Daya Air Nasional dan juga salah satu dosen Faperta Universitas Sriwijaya (UNSRI), menempatkan sungai sebagai tanggung jawab bersama. Dalam gagasan itu, sungai menjadi anak asuh, sedangkan kampus menjadi bapak asuh yang ikut menjaga keberlangsungannya.

“Kepedulian perguruan tinggi terhadap persoalan banjir diharapkan tidak berhenti pada diskusi dan kajian akademik. Sungai di sekitar kampus dapat menjadi ruang penerapan ilmu sekaligus pengabdian kepada masyarakat melalui upaya perawatan dan perlindungan lingkungan,” tegasnya.

IKLAN AGRARIS

Kuliah umum yang dimoderatori Prof. Dr. Ir. Aprisal, M.P., tersebut membahas banjir bukan semata-mata sebagai persoalan curah hujan, tetapi juga berkaitan dengan kondisi tanah, perubahan tutupan lahan, serta kemampuan lingkungan menyerap dan mengalirkan air.

Tiga Faktor Banjir Berulang

Dalam materi yang ditampilkan, Prof. Momon memaparkan tiga faktor yang berkaitan dengan banjir berulang di Padang, yakni kondisi topografi yang terjal, pertemuan aliran sungai, dan dinamika tutupan lahan di hulu. Bentang alam Padang memiliki peralihan tajam antara kawasan pegunungan curam di bagian timur dan dataran rendah di bagian barat.

Prof. Momon memaparkan faktor banjir secara berulang di Kota Padang di Kuliah Umum Faperta UNAND.

Pada saat yang sama, peningkatan debit secara bersamaan dari beberapa anak sungai dapat menaikkan muka air di hilir dengan cepat, terutama apabila kapasitas penampang sungai terbatas. Pembukaan hutan, perubahan penggunaan lahan, serta pembangunan di lereng juga dapat mengurangi daya serap tanah dan meningkatkan erosi di hulu.

Momon menyoroti berkurangnya tutupan hutan yang berperan menahan air hujan. Ia menjelaskan bahwa aliran air yang membawa tanah, lumpur, dan batuan dapat masuk ke sungai dan memperbesar ancaman banjir bandang.

Ia juga menyinggung kurangnya kepedulian terhadap lingkungan, antara lain melalui kebiasaan membuang sampah ke selokan. Karena itu, gagasan pengasuhan sungai menjadi salah satu ajakan untuk membangun keterlibatan yang lebih nyata dalam menjaga lingkungan.

Kampus Tidak Berhenti pada Kajian

Melalui gagasan bapak asuh sungai, masing-masing kampus di Padang diharapkan memiliki satu sungai di sekitarnya yang menjadi perhatian bersama. Sungai tersebut dirawat, dijaga, dan dilindungi dengan melibatkan lingkungan kampus.

Gagasan ini menghubungkan peran akademik perguruan tinggi dengan kebutuhan lingkungan di sekitarnya. Kajian mahasiswa dan dosen diharapkan tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga mendukung upaya menjaga tanah, daerah resapan, dan sungai. Prof. Momon turut mendorong mahasiswa ilmu tanah mengkaji perubahan tutupan lahan, termasuk dengan memanfaatkan citra satelit sebagai bahan penelitian atau skripsi.

Ia menyinggung fenomena kota beton, yakni perubahan kawasan yang semula dapat meresapkan air menjadi permukaan tertutup beton. Momon menantang mahasiswa untuk menilai kondisi Kota Padang melalui pemetaan dan klasifikasi penggunaan lahan, seperti permukiman, kawasan pertanian, dan ruang hijau.

Menjaga Tanah untuk Melindungi Kota

Dekan Fakultas Pertanian Unand, Prof. Dr. Ir. Indra Dwipa, M.S., dalam sambutannya menyinggung pengalaman galodo yang belum lama melanda Kota Padang. Peristiwa itu, menurutnya, menjadi pengingat pentingnya memahami peran tanah dalam menjaga lingkungan dan kehidupan.

“Tanah bukan hanya sebagai bagian yang ada di bumi untuk kita pijak saja,” ujar Dekan Faperta UNAND.

Ia menegaskan bahwa ilmu tanah memiliki peran strategis dalam mitigasi bencana dan rehabilitasi lingkungan. Karena itu, mahasiswa diharapkan melihat bidang keilmuannya dalam perspektif yang lebih luas, termasuk kaitannya dengan ketahanan lingkungan dan keberlanjutan kehidupan.

Padang
Dekan Fakultas Pertanian Unand, Prof. Dr. Ir. Indra Dwipa, M.S., memberikan kata sambutan sekaligus membuka kuliah umum di Jurnalis Kamil Convention Hall, Faperta UNAND.

Prof. Indra juga berharap kuliah umum tersebut menjadi ruang dialog lintas sektor untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Ketika kita menjaga tanah, sesungguhnya kita sedang menjaga kota dan kehidupan masyarakat,” pesannya.

Perbaikan Tanah dan Pemulihan Hulu

Prof. Momon menjelaskan bahwa kesehatan tanah tidak hanya dilihat dari kemampuannya menjadi tempat tumbuh tanaman, tetapi juga dari keamanan hasil tanaman untuk dikonsumsi. Ia turut menekankan pentingnya memperbaiki sifat fisik tanah agar air dapat meresap dan bergerak melalui tanah dengan baik.

“Untuk penanganan jangka pendek, ia menawarkan pendekatan fisik berupa pembuatan kolam bertingkat pada kawasan tanah atau hutan yang telah mengalami longsor. Sementara untuk jangka panjang, ia menekankan reboisasi sebagai bagian dari pemulihan lingkungan,” tegasnya.

Dengan menjadikan kampus sebagai bapak asuh sungai, Prof. Momon optimis kolaborasi lintas sektor di Kota Padang mampu memperkuat ketahanan wilayah dan merevitalisasi tanah sehat untuk mencegah siklus bencana berulang di masa depan.[Mbee]