Agraris.id | 2026 — Tanpa memiliki kebun kopi sendiri, Nana Coffee & Roastery di Kota Padang membuktikan bahwa usaha pengolahan tetap bisa berjalan mengandalkan jaringan pemasok. Pengembangan bisnis milik Fajar Shajid (27) ini didukung oleh dua penopang utama: rantai pasok yang kuat dan skema pendanaan investasi agar ekspansi tidak sepenuhnya bergantung pada modal pribadi.

Di awal operasinya, usaha ini mencatat volume sekitar 200 kilogram roasting dengan omzet sekitar Rp6 juta selama tiga minggu beroperasi. Capaian tersebut disampaikan langsung oleh Fajar.

“Saya tidak memiliki kebun sendiri, tetapi supplier sudah rutin menyuplai biji ke saya,” ujar Fajar.

Menurut Fajar, pasokan biji kopi tersebut tidak hanya datang dari satu daerah, melainkan dari sejumlah wilayah dengan Robusta Kerinci sebagai bahan baku utama.

IKLAN AGRARIS

“Selain dari Kerinci, pasokannya ada dari Bogor, Aceh, Solok Rajo, dan Padang,” katanya.

Biji kopi tersebut diperoleh melalui pemasok yang terhubung dengan jaringan petani dan pemasok. Dalam rantai itu, petani berperan sebagai penghasil, sementara pemasok menjadi jalur penyaluran hasil panen kepada pelaku usaha yang akan mengolahnya. Dengan pola tersebut, Fajar tidak perlu mengelola perkebunan sendiri untuk memperoleh bahan baku.

Selain pasokan, kebutuhan modal terbesar Nana Coffee & Roastery ada pada peralatan dan fasilitas. Fajar menyebut pembelian mesin roasting bernilai sekitar Rp26 juta.

“Untuk modal yang dikeluarkan itu pembelian mesin roasting sekitar Rp26.000.000-an ya,” ujarnya.

Sementara itu, pembangunan ruang roasting membutuhkan biaya sekitar Rp55 juta. Pengeluaran tersebut diarahkan untuk mendukung operasional, mulai dari pengolahan biji kopi hingga menghasilkan produk yang bernilai jual.

Skema Investasi Gerobak dan Aktivitas Awal Nana Coffee & Roastery

Untuk memperluas usaha, Fajar menerapkan skema investasi sehingga ekspansi tidak sepenuhnya bertumpu pada modal pribadi. Salah satu bentuknya adalah penawaran investasi gerobak kopi dengan nilai sekitar Rp20 juta untuk setiap unit.

Penawaran kepada calon investor dilakukan melalui presentasi PowerPoint untuk menjelaskan konsep usaha yang dikembangkan. Fajar menggambarkan modal awalnya sebagai keberanian mencari pihak yang mau berinvestasi.

“Investasi lah, memaparkan ide bisnis kita kepada para investor. Mereka tertarik, lanjutlah berbicara kesepakatannya,” kata Fajar.

Soal aktivitas usaha, Fajar menyebut mesin roasting baru sekitar sebulan dibeli dan sudah menghasilkan pendapatan.

“Kalau mesinnya baru sebulanan dibeli, dan sudah dapat hasil Rp6.000.000 selama tiga minggu terakhir ini,” ujarnya.

Angka itu memberi gambaran awal, tetapi omzet tidak dapat langsung disamakan dengan keuntungan. Pendapatan masih harus diperhitungkan bersama biaya bahan baku, energi, tenaga kerja, pemeliharaan peralatan, dan kebutuhan operasional lainnya.

Fajar mengawali perjalanannya di industri kopi pada 2023. Dua tahun kemudian, ia merintis usaha kopi gerobak melalui Forego sebagai langkah awal mengembangkan bisnisnya di sektor kopi.

Nana Coffee & Roastery menunjukkan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk memulai dan membuka usaha, sebab dengan semangat bersinergi dan saling memanfaatkan peluang secara positif, siapa pun dapat berkarya tanpa harus memiliki seluruh sumber dayanya sendiri. Selama dijalankan dengan cara yang jujur dan tidak merugikan pihak lain, kolaborasi antara petani, pemasok, dan pengusaha kopi ini menjadi bukti nyata bahwa roda perekonomian tetap dapat berputar dan memberikan manfaat bagi banyak pihak.

Penulis: Adinda Ridhollahu Anha & Akhiroti Hasanah | Editor: Khairul Fadli Rambe