Agraris.id | 2026 — Kita sering mengira usaha lahir dari modal besar dan pengalaman panjang. Kunjungan ke Nana Coffee & Roastery pada Kamis, 8 Oktober 2026, dalam kegiatan pembelajaran kewirausahaan, membuat saya meragukan anggapan itu. Pemiliknya, Fajar Shajid, membangun usahanya dari hal yang jauh lebih sederhana: keberanian memulai dan kemauan belajar.

Fajar bercerita bahwa ketertarikannya pada bisnis muncul sejak 2015. Pengetahuan tentang kopi baru ia pelajari secara mandiri pada 2023, salah satunya lewat YouTube. Dari situ ia serius menggarap roasting hingga lahirlah Nana Coffee & Roastery. Ia tidak menunggu menjadi ahli lebih dulu. Ia belajar sambil berjalan.

Gerobak Kecil, Langkah Pertama

Usaha Fajar tidak dimulai dari roastery. Awalnya hanya satu gerobak kopi bernama Forego, yang kemudian berkembang menjadi delapan gerobak sebelum ia melebar ke roasting.

IKLAN AGRARIS

Kisah ini penting bagi anak muda, termasuk mahasiswa pertanian, yang kerap menunda usaha karena merasa modal dan pengalamannya belum cukup. Perkembangan dari satu menjadi delapan gerobak menunjukkan bahwa usaha tumbuh bertahap, dari langkah kecil yang dijalani konsisten.

Cari Masalah Dulu, Baru Jual Solusi

Pelajaran yang paling saya ingat adalah prinsip Fajar, yakni sebelum berbisnis, cari dulu masalah yang ada di pasar, lalu hadirkan solusinya. Ia juga mengingatkan agar tidak memulai usaha dengan berutang selama masih bisa memakai kemampuan yang dimiliki.

Prinsip itu terlihat pada Nana Coffee & Roastery sendiri. Fajar menyebut belum ada layanan roasting per batch di Padang karena umumnya dihitung per kilo, dan ia membuka proses sangrai di balik dinding kaca agar pengunjung bisa melihat langsung. Itu cara membaca kebutuhan pasar: pelanggan ingin tahu apa yang terjadi pada kopinya.

Cara pandang ini relevan bagi sektor pertanian. Kopi dimulai dari kebun, tetapi nilai tambah sering lahir di hilir, pada pengolahan dan pengalaman yang ditawarkan kepada konsumen. Petani dan pelaku muda yang memahami kebutuhan pasar punya peluang lebih besar untuk tidak berhenti sebagai penjual bahan mentah.

Meski begitu, kisah seperti ini perlu dibaca dengan jernih. Cerita yang sampai kepada kita adalah cerita usaha yang bertahan. Kita tidak mendengar usaha serupa yang berhenti di tengah jalan. Memulai kecil tidak otomatis aman, dan belajar dari YouTube tidak menggantikan disiplin mengelola usaha, mulai dari keuangan sampai kualitas produk. Pesan Fajar tentang tidak berutang justru menjadi pengingat bahwa langkah kecil pun harus dihitung.

Fajar Shajid (Founder alokop.id & forego.id & nanaroasterycoffee)

Pilihan Ada di Tangan Kita

Di akhir diskusi, Fajar menutup dengan kalimat sederhana, kalian pengen jadi apa tergantung kalian. Kalimat itu tidak menjanjikan hasil. Ia menyerahkan tanggung jawab kepada kita. Impian hanya menjadi angan jika tidak diikuti tindakan, dan tindakan paling mungkin dimulai hari ini dari langkah yang kecil, ukurannya selebar gerobak pertama.

Penulis: Salsabilla Diva, S.Tr.P.
Lulusan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor