Agraris.id | 2026Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Nagari Pulau Karam, Kecamatan Tarusan, kawasan wisata terintegrasi Mandeh, mendapat pendampingan pengembangan produk olahan buah nipah dari program Konservasi Camp Swara Rimbo Pasisia yang digagas Sumatra Wild Adventure (SWA) bersama Wahid Foundation.

Pendampingan ini berlangsung selama rangkaian kegiatan tiga hari yang mempertemukan peserta program dengan Kelompok Wanita Tani (KWT), pelaku UMKM, kader PKK, dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat, dengan tujuan mendorong produk lokal berbasis nipah agar naik kelas dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Founder Sumatra Wild Adventure, Novi Fani Rovika, mengatakan salah satu temuan penting selama proses pendampingan adalah potensi produk berbahan dasar nipah yang belum tergarap maksimal.

Kita juga meminta peserta untuk bisa memberikan semacam advice kepada masyarakat lokal supaya bisa mengembangkan mungkin UMKM-nya karena ternyata mereka punya produk yang unik dari buah nipah. Nah, itu kayaknya perlu pengembangan. Nah, itu nanti kita bantu untuk pengembangan UMKM mereka supaya produknya bisa naik kelas,” ujar Vani.

IKLAN AGRARIS

Program pendampingan UMKM ini merupakan bagian dari inisiatif Suara Rimba Pesisia, gerakan penyelamatan kawasan pesisir berbasis pengetahuan lokal dan restorasi ekosistem mangrove yang dipercayakan Wahid Foundation kepada SWA melalui program Harmony in Action. Selain Sumatera Barat, program serupa juga dijalankan di Sumatera Utara. Di Sumatera Barat, kegiatan ini bekerja sama langsung dengan Pemerintah Nagari Pulau Karam.

Menurut Vani, program ini tidak lahir semata dari kebutuhan ekonomi, melainkan tumbuh dari kesadaran kolektif masyarakat setempat untuk saling membantu menjaga lingkungan pesisir yang selama ini menopang hidup mereka. Semangat gotong royong itu tercermin dari keterlibatan aktif kelompok ibu-ibu, KWT, dan Pokdarwis yang secara sukarela membuka diri menerima pendampingan, di tengah kesadaran bahwa dampak krisis iklim seperti abrasi pantai sudah nyata dirasakan, bukan lagi ancaman yang jauh.

Kami mendapatkan kekuatan yang sangat luar biasa dari antusias ibu-ibu itu. Jadi kayak ibu-ibu itulah yang jadi bentengnya,” ujar Vani, menggambarkan bagaimana solidaritas warga menjadi modal utama keberlangsungan program, bahkan di tengah sempat munculnya penolakan dari sebagian pemuda setempat.

Vani menjelaskan, penguatan ekonomi masyarakat menjadi salah satu sasaran program karena wilayah pesisir Mandeh, meski berstatus Proyek Strategis Nasional dan kawasan wisata terintegrasi terbesar di Sumatera Barat, belum menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan bagi warga sekitar.

Salah satu peserta volunteer, Diko Okta Siswandra, menegaskan pentingnya publikasi produk UMKM lokal agar distribusinya tidak berhenti di skala terbatas.

Bahwasanya UMKM adalah jantung putaran ekonomi di daerah ini. Layaknya kita harus publikasikan dan kita sampaikan kepada khalayak umum agar pendistribusiannya semakin melesat dan jauh, agar semua orang bisa memanfaatkannya,” kata Diko.

Selain pengembangan UMKM, rangkaian program juga mencakup peningkatan kapasitas masyarakat lokal, pengorganisasian warga, serta pelibatan mahasiswa dari luar daerah dalam aksi restorasi ekosistem mangrove di kawasan tersebut. Bagi SWA, kolaborasi lintas kelompok ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi gerakan pelestarian pesisir yang lebih luas di sepanjang wilayah Sumatera Barat.[Mbee]