Agraris.id | 2026 — Di tengah tren lulusan perguruan tinggi yang berlomba mencari pekerjaan setelah wisuda, seorang mahasiswa Universitas Andalas justru memilih jalan berbeda. Aldi Yulianda, mahasiswa Jurusan Penyuluhan Pertanian, membangun usaha pembibitan tanaman hortikultura yang diberi nama Pembibitan Muda Karya di Limau Manis, Kota Padang.

Berbeda dengan toko pertanian pada umumnya yang menjual benih berupa biji, Pembibitan Muda Karya menyediakan bibit yang telah melalui proses pembesaran sehingga siap dipindahkan ke lahan tanam.

Usaha ini telah dirintis selama dua tahun, yang berawal dari bisnis media tanah khusus pembibitan. Sejak dimulai, usaha ini memfokuskan pada penyediaan bibit atau anakan tanaman hortikultura siap tanam, seperti cabai, terong, tomat, seledri, pakcoy, dan selada,” ujar Aldi.

Selain menjual bibit, Aldi juga memproduksi sendiri media tanam berbahan dasar tanah humus yang dicampur pupuk kandang dan dolomit. Seluruh bahan diolah dan diayak hingga halus untuk menghasilkan media tanam yang berkualitas.

IKLAN AGRARIS

Cara ini digunakan untuk mengurangi risiko kegagalan tumbuh yang sering dialami masyarakat saat menanam dari benih. Jadi, saya tidak hanya menyediakan barang tanam saja, melainkan memberikan solusi dari bagaimana merawat dan menjaga tanaman dari benihnya lewat media pupuk ini. Saya berani mengatakan bahwa pupuk ini tingkat keberhasilan tumbuh bibit dapat mencapai sekitar 80 persen,” pungkasnya.

Aldi mengaku keputusan membangun usaha sendiri bukan semata-mata karena melihat peluang bisnis, tetapi lebih didorong oleh kebutuhan mendesak akan pekerjaan. Ia menegaskan, sebagai mahasiswa pertanian, prinsip yang dipegangnya adalah tidak sekadar mencari kerja, melainkan menciptakan lapangan pekerjaan itu sendiri, meski ia mengakui hal tersebut bukan perkara mudah.

“Kita sebagai mahasiswa, apalagi mahasiswa pertanian, bukan yang mencari kerja, tapi yang menciptakan lapangan pekerjaan, walaupun itu sulit. Tujuan kita hanya satu, membuktikan bahwa lulusan pertanian dapat memberikan nilai tambah melalui inovasi dan penerapan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah,” tegasnya.

Menjawab soal apa yang membedakan usahanya dengan pertanian konvensional yang dijalankan generasi sebelumnya, Aldi menjelaskan bahwa ia sengaja mencari pendekatan dan inovasi baru untuk mengembangkan ilmu yang telah dipelajarinya, alih-alih meneruskan pola bertani lama tanpa nilai tambah keilmuan.

“Itulah yang membedakan, kita mencari alternatif dan inovasi lain untuk mengembangkan ilmu yang kita dapat, biar berbeda dari petani biasa,” kata Aldi.

Menurut Aldi, peluang pasar untuk usaha pembibitan di Kota Padang masih terbuka lebar. Ia menilai belum banyak pelaku usaha yang menyediakan bibit hortikultura siap tanam, sementara kebutuhan masyarakat terhadap sayuran dan cabai terus meningkat. Selain itu, semakin banyak masyarakat perkotaan yang mulai memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan konsumsi sendiri.

Meski demikian, perjalanan usahanya tidak lepas dari berbagai tantangan. Keterbatasan modal menjadi hambatan utama dalam memenuhi permintaan pasar. Aldi mengaku beberapa kali terpaksa menolak pesanan karena stok bibit yang tersedia belum mencukupi. Demi mempertahankan usahanya, ia bahkan rela menjual aset pribadi berupa sepeda motor dan laptop.

Di sisi lain, pemasaran digital melalui media sosial seperti TikTok dan Instagram juga belum berjalan maksimal. Seluruh kegiatan usaha, mulai dari produksi hingga promosi, masih ia lakukan sendiri sehingga pengelolaan media sosial belum optimal.

Hingga saat ini, roda operasional dan pengembangan Pembibitan Muda Karya masih ditopang sepenuhnya dari dana swadaya pengelola. Kondisi ini mencerminkan konsistensi dan komitmen Aldi dalam membesarkan usahanya secara mandiri, sekaligus membuka ruang kemitraan strategis bagi pihak yang ingin terlibat lebih jauh dalam pengembangan usaha ini.

Dukungan permodalan tambahan dari mitra atau investor akan memungkinkan peningkatan kapasitas produksi, ketersediaan stok bibit yang lebih lengkap, perluasan jangkauan pemasaran, sekaligus pengembangan program edukasi smart farming bagi masyarakat—khususnya dalam pemanfaatan pekarangan rumah sebagai lahan produktif. Dengan potensi pasar hortikultura di Kota Padang yang masih terbuka lebar, peluang kemitraan pada tahap awal pertumbuhan usaha semacam ini dinilai strategis bagi investor yang ingin mengambil bagian dalam penguatan sektor pertanian perkotaan berbasis inovasi anak muda.

Melalui Pembibitan Muda Karya, Aldi berharap semakin banyak generasi muda, khususnya mahasiswa, yang berani memanfaatkan ilmu yang dimiliki untuk membangun usaha mandiri sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru di sektor pertanian.[zan]