Agraris.id, 2026 — Di tengah hiruk-pikuk modernisasi yang kian pesat, sektor pertanian terus membuktikan eksistensinya sebagai kekuatan yang bekerja dalam senyap tanpa perlu menonjolkan diri. Meskipun sering kali dipandang sebelah mata akibat minimnya minat generasi muda untuk turun ke lahan serta tata kelola yang dianggap belum maksimal, sektor ini tetap berdiri kokoh sebagai tulang punggung yang menjamin stabilitas pasokan pangan nasional di tengah era yang terus berubah.

Executive Director, Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, Ello Hanson menjelaskan, secara historis sektor pangan dan pertanian tergolong tahan banting di semua zaman. Sebab, permintaan produk pangan maupun pertanian semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah populasi di Indonesia. Ketangguhan ini menunjukkan bahwa di balik keterbatasan yang ada, pertanian memiliki daya tahan alami yang krusial bagi keberlangsungan hidup masyarakat luas.
Otomatis base demand juga akan semakin naik dan bukan tidak secara kebetulan juga salah satu portfolio dari Bank DBS dalam segi pembiayaan yang paling besar adalah datang dari food and agri,” ujarnya.

Ello Hanson menekankan juga bahwa pertanian memiliki cakupan luas yang diistilahkan oleh Bank DBS Indonesia sebagai farm to fork. Artinya, sektor ini mengawal proses dari produksi awal di kebun hingga produk sampai ke piring konsumen. Cakupan horizontalnya pun sangat beragam, mengintegrasikan komoditas seperti jagung, gula, tebu, hingga aspek protein hewani dan akuakultur.

Secara fundamental memang food and agri, pangan ini sangat penting untuk Indonesia dan untuk DBS,” tuturnya.

IKLAN AGRARIS

Untuk mengantisipasi berbagai risiko akibat ketidakpastian global—seperti konflik di Ukraina dan Iran, fluktuasi harga minyak, hingga dampak pelemahan rupiah terhadap biaya produksi—Bank DBS Indonesia secara berkala melakukan stress testing. Hasilnya, kondisi sektor pertanian dinilai tetap solid dan tidak mengalami perubahan kinerja yang signifikan di tengah dinamika pasar yang ada.

Namun, para pelaku usaha tani tetap dihimbau untuk memperkuat ketahanan operasional, salah satunya dengan menyiapkan persediaan stok yang lebih panjang guna menghadapi ketidakpastian pasokan. Langkah mitigasi ini sangat penting mengingat sektor pertanian sangat sensitif terhadap perubahan harga yang dapat memengaruhi tingkat profitabilitas para petani secara langsung.

Misalnya mereka harus stock inventory lebih panjang dengan harga yang lebih tinggi, sedangkan pada saat mereka jual itu harganya turun, itu bisa memengaruhi profitability mereka. Tapi secara overall, secara portfolio kita masih intact, kita tidak melakukan knee-jerk reaction untuk mengambil langkah untuk mengeksit satu bidang tertentu di pangan ini,” tutupnya.[Mbee]

Referensi:

https://www.cnbcindonesia.com/news/20260430164835-4-731363/ungkap-peluang-di-sektor-pertanian-dbs-indonesia-tekankan-hal-ini