Agraris.id | 2026 — Memasuki pertengahan bulan September, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam cengkeraman musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak kemarau tahun ini berlangsung sejak Juli hingga September, dengan masa transisi menuju musim hujan baru dimulai pertengahan Oktober dan meluas hingga akhir November 2026.

Kondisi ini diperparah oleh fenomena El Nino berintensitas sangat kuat yang diprediksi bertahan hingga awal 2027, membuat musim kering tahun ini cenderung lebih panjang dan lebih kering dibanding rata-rata klimatologisnya. Di tengah situasi tersebut, pemilihan komoditas menjadi salah satu kunci bagi petani untuk tetap menjaga produktivitas dan pendapatan selama sisa musim kemarau.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, curah hujan selama periode ini secara umum berada pada kategori bawah normal di banyak wilayah, yang berarti kondisinya lebih kering dibanding rata-rata biasanya. Ia menyebut, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki puncak kemarau pada Agustus 2026, sementara sebagian lainnya baru mengalami puncak kemarau pada Oktober.

BMKG memprediksi fenomena El Niño akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98% dan kategori kuat sebesar 62%, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode musim kemarau hingga pertengahan bulan Oktober,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dikutip dari laman resmi BMKG..

IKLAN AGRARIS

Ahli dari Direktorat Klimatologi BMKG juga mengingatkan, kombinasi puncak kemarau dan El Nino berpotensi memicu krisis air bersih, penurunan produksi pertanian, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan. Masa peralihan menuju musim hujan diperkirakan baru terjadi secara bertahap mulai pertengahan Oktober hingga akhir November 2026. Artinya, sejumlah wilayah masih harus melalui kondisi cuaca panas ini beberapa pekan lagi sebelum curah hujan kembali normal.

Dampak kekeringan berkepanjangan ini memang tidak dirasakan sama oleh semua jenis tanaman. Namun, komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, dan bawang merah dikenal sangat sensitif terhadap kekurangan air. Ketika pasokan air tidak mencukupi, bunga dan buah pada tanaman ini cenderung rontok sebelum sempat dipanen. Kondisi ini mengakibatkan penurunan produksi yang kerap memicu lonjakan harga di pasaran yang belakangan ini terlihat pada kenaikan harga cabai rawit nasional.

Padi juga tergolong komoditas rentan karena membutuhkan pasokan air irigasi dalam jumlah besar sepanjang masa tanamnya. Saat kekeringan terjadi, produksi padi berisiko menurun drastis, terutama di lahan sawah tadah hujan yang bergantung penuh pada curah hujan tanpa dukungan irigasi teknis. Komoditas perkebunan seperti kopi, kakao, kelapa sawit, hingga tebu juga termasuk yang rentan terdampak jika kondisi kemarau tidak diantisipasi dengan baik.

Di sisi lain, sejumlah komoditas justru relatif tahan terhadap kondisi kering dan dapat menjadi alternatif budi daya selama musim kemarau. Jagung, misalnya, dapat tumbuh dengan baik di daerah beriklim kering dan membutuhkan lebih sedikit air dibanding padi, sehingga lebih cocok ditanam pada lahan dengan keterbatasan irigasi.

Ubi jalar dan singkong juga tergolong komoditas yang dianjurkan karena tahan panas dan mampu menghasilkan cadangan pati yang tinggi meski dalam kondisi minim air. Sementara itu, kacang-kacangan seperti kacang tanah dan kacang hijau mudah beradaptasi di lahan kering, dan sekaligus membantu menyuburkan tanah.

Terong menjadi komoditas menarik lainnya, karena komoditas tersebut justru menyukai cuaca panas dan kering yang dapat memicu pembungaan lebih banyak, sehingga berpotensi tetap produktif di tengah musim kemarau.

Menghadapi tantangan kemarau panjang yang masih membayangi, para petani dituntut untuk sigap menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan kondisi iklim guna meminimalkan risiko penurunan hasil panen. Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan bahwa pemerintah terus mendorong berbagai strategi adaptasi guna menjaga produktivitas.

Mitigasi terus diperkuat melalui budidaya adaptif, penggunaan benih unggul tahan kering, serta pendampingan kepada pekebun agar produksi tetap terjaga,” ujarnya.[Mbee]

Sumber Referensi dan Bacaan Lanjutan:
https://www.dw.com/id/bmkg-ungkap-akhir-musim-kemarau-di-indonesia/a-78421504
https://www.pertanian.go.id/Data5tahun/TPATAP-2017(pdf)/img_viewer.php?show=news&act=view&id=7615
https://distankan.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/budidaya-terong-solanum-melongena-l-11