Agraris.id | 2026Pengelola Ekowisata Sungkai Green Park (ESGP), Pak Rimbra, melakukan eksperimen meracik pupuk cair organik sendiri, yang kini diterapkan untuk perawatan tanaman di ESGP. Pupuk tersebut dibuat dari bahan-bahan tanaman hijau yang difermentasi menggunakan bakteri penambat, bakteri pelarut, dan bakteri pengurai, sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

Tanaman, seluruh jenis tanaman yang berbentuk hijau itu bisa dimanfaatkan untuk pupuk cair. Contohnya, diproses dalam bentuk difermentasi. Kita ambil waktu tiga hari atau empat hari. Digunakanlah bakteri-bakteri penambat, pelarut, dan pengurai itu tadi,” ujar Pak Rimbra.

Proses fermentasi berlangsung selama tiga hingga empat hari, dan pada kondisi tertentu bisa mencapai satu minggu. Setelah fermentasi selesai, pupuk disemprotkan ke tanaman pada pagi, sore, atau malam hari. Penyemprotan ke permukaan daun dilakukan saat stomata terbuka agar penyerapan nutrisi lebih optimal, atau langsung ke tanah agar diserap akar tanaman.

Selain bakteri pengurai, pupuk cair tersebut ditambahkan Trichoderma SP sebagai agen anti-jamur, serta probiotik dan bakteri baik lain untuk meningkatkan kualitas nutrisi.

IKLAN AGRARIS

Pakai anti-jamur, kalau enggak, pupuk cair itu rentan terhadap jamur. Dari Trichoderma SP namanya. Ada produknya yang bisa larut dalam pupuk cair itu. Ditambah juga dengan probiotik, bakteri-bakteri baik. Itu salah satu manfaat memakai pupuk cair, jadi merancak (tumbuh bagus) tanamannya itu,” tegasnya.

Beliau juga menyampaikan bahwa pupuk kimia memang dapat mempercepat pertumbuhan tanaman, tetapi berdampak buruk terhadap lingkungan dalam jangka panjang. Sebaliknya, pupuk organik dinilai menjaga keseimbangan ekosistem.

Dampak dari pupuk kimia misalnya, baik untuk tanaman, tapi tidak baik untuk alam. Baik untuk manusia, bisa saja. Tapi kalau pupuk organik, baiknya untuk alam, untuk seluruh ekosistem kehidupan,” ungkapnya.

Ia menyoroti kecenderungan masyarakat masih bergantung pada pupuk kimia karena tekanan kebutuhan pasar, meski pupuk organik dinilai sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan bagi sektor pertanian. Melalui produksi mandiri pupuk cair organik ini, ESGP turut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pertanian ramah lingkungan.[Zan]