Agraris.id | 2026 — Inovasi pengolahan daun sungkai menjadi minuman herbal berupa teh berhasil dikembangkan di  Ekowisata Sungkai Green Park (ESGP), Kota Padang, Sumatera Barat. Pengelolaan kebun sungkai ini dikelola secara mandiri oleh Pak Rimbra sendiri.

Pak Rimbra mengungkapkan bahwa tanaman sungkai memiliki banyak manfaat bagi kesehatan sehingga permintaannya terus meningkat. Menurutnya, daun sungkai mengandung antioksidan yang tinggi, bersifat antibakteri, dan memiliki manfaat sebagai anti-kolesterol. Selain itu, masyarakat secara turun-temurun juga mempercayai daun sungkai sebagai obat alami untuk membantu menurunkan demam.

Sungkai itu bisa jadi teh karena manfaatnya ada kandungan antioksidannya tinggi, antibakterinya, anti-kolesterolnya. Orang-orang demam itu biasa minum itu,” ujar Pak Rimbra.

Lahan budidaya sungkai di ESGP mulai dirintis sejak tahun 2010 dan terus dikembangkan hingga saat ini. Tanaman sungkai dapat dipanen kapan saja sesuai permintaan pasar, bahkan sejak berumur tiga hingga lima bulan setelah ditanam.

IKLAN AGRARIS

Proses pengolahan teh sungkai dimulai dengan memetik bagian pucuk atau ujung daun yang ditanam secara organik tanpa menggunakan pestisida kimia. Daun-daun tersebut kemudian dikeringkan hingga menjadi simplesia atau bahan baku kering sebelum dikemas dan dipasarkan. Namun, pasar permintaan yang cukup tinggi akan daun ini dari kalangan farmasi.

Para yang mesan saya, buatnya adalah dalam bentuk kering (simplesia) daun. Orang farmasi petang baru minta 3 kg kering,” tambahnya.

Produk teh sungkai dipasarkan dalam bentuk kemasan kotak dengan harga Rp25.000 per kotak. Selain itu, daun sungkai juga dijual  dalam bentuk tangkai segar seharga Rp20.000 per tangkai.

Teh sungkai waktu itu saya jual masih harga Rp25.000 satu kotak. Kalau satu tangkai itu Rp20.000. Saya jual daun, satu tangkai itu Rp20.000, bernilai juga kan? Yang diambil itu bagian yang di ujungnya, pucuk-pucuknya,” tambahnya.

Keberadaan inovasi ini tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi tanaman sungkai, tetapi juga memperkenalkan potensi tanaman hutan endemik tropis Sumatra dan Kalimantan sebagai produk herbal yang memiliki nilai kesehatan serta peluang usaha yang menjanjikan bagi masyarakat.[zan]